Mendadak Sakit Setelah Makan Duren

Aku tanya apa hubby sanggup menyetir, karena tidur cuma sebentar. Hubby bilang sanggup, apalagi anak lelaki kami sedang kedatangan teman-temannya. Si bungsu juga akan menemaniku.

Aku menutup mata selama di mobil karena saat terbuka akan terasa pusing dan mual. Jadi aku memperkirakan arah laju mobil. Beberapa kali hubby menanyakan kondisiku ke si bungsu yang duduk di jok tengah bersamaku. Kami ke dua RS, kondisi IGD penuh semua. Tak ada bed kosong, aku diminta menunggu, tapi sakitnya sudah tidak tahan. Akhirnya ke RS ketiga, alhamdulillah. Dicek tekanan darah, 141/85. Sepertinya ini paling tinggi dalam sejarah tensiku. Dokter menanyakan aktivitas dan makanan yang kukonsumsi.

Hubby bercerita bahwa siangnya aku makan duren, lalu minum es, dan makan sate bebek. Aku ingin mengoreksi, tapi tak sanggup berkata-kata. Dokter tanya pernah cek kolesterol, kujawab bulan lalu 146. Lalu aku disuntik di pergelangan tangan kanan. Saat kutanya, suntikan itu untuk menghilangkan pusing. Beberapa belas menit kemudian aku muntah lagi. Pengaruh obat, jawab suster saat anakku bertanya.

Aku mulai merasakan perubahan, pusing yang hilang, mual yang mereda, aku bahkan sanggup melihat lampu ruang IGD. Aku yakin sudah mendingan, pikirku. Tapi itu hanya bertahan beberapa puluh menit, saat observasi sedang berlangsung.

Setelahnya aku mencoba duduk, tapi pusing terasa dan mual juga datang lagi. Saat itulah hubby menanyakan keinginanku, rawat inap atau jalan. Aku akhirnya pilih rawat inap. Lalu datang suster akan mengambil darah di punggung tangan kiri. Aku menawar ambil darah dari ujung jari saja, tapi suster bilang tidak bisa.

Aku diminta mengepalkan tangan, lalu lenganku diikat. Suster menusukkan jarum ke pembuluh darah. Aku memikirkan banyak hal jika dirawat inap, memperhitungkan jika rawat jalan. Aku baru akan bilang supaya tidak dipasang jarum infus karena aku berubah pikiran, saat suster menghela napas.

“Maaf ya, Bu, bengkak sedikit. Kita coba lagi, ya,” kata suster. Aku merasa sebuah plester dipasang di punggung tangan. Aku menoleh dan melihat jarum suntik yang tidak terkena setetes darah pun.

Saat itu pergantian dokter jaga. Dokter baru menanyai kondisiku. Aku tanya sebenarnya sakit apa. Dokter bilang vertigo. Aku bilang rawat jalan aja. Dokter menyarankan begitu terasa lagi kondisi semula atau lebih parah, segera periksa.

Akhirnya aku pulang, menyembuhkan diri di rumah, di tengah suasana yang kukenal dan mengenalku. Anak-anak bersama ayahnya mengawal asupan makanan dan obatku, juga melaksanakan permintaanku.

Selama beberapa hari aku heran dengan pergantian waktu yang kadang cepat atau lebih lambat. Juga aneka mimpi yang aneh, karena aku banyak tidur, efek obat dan capek menahan sakit. Pernah siang hari aku terbangun dan terkejut mendapati masih berada di kamarku, setelah bermimpi membela bumi bersama sekelompok manusia mutan. Pernah juga tengah malam membangunkan hubby karena mendengar suara tetes kran air yang bocor, di telingaku seperti ancaman banjir.

Masya Allah, tabarakallah, allahumma baarik ‘alaih 🤲 Alhamdulillah masih diberi hidup dan insyaallah kesembuhan, sehingga bisa menulis ini. Alhamdulillah masih diberi kewarasan meneruskan tulisan untuk memenuhi tantangan bulan Februari Sahabat Forsen. Anakku sampai geleng kepala lihat emaknya susah payah speech to text supaya tinggal edit.

Lauk yang dibuat hubby untukku berupa telur orak-arik madu. Rasanya? Buatku yang pengin sembuh mah enak saja.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Maaf lahir batin dan terima kasih doa semuanya 🙏Terima kasih anak-anak sudah menjaga emaknya 🙏Terima kasih hubby yang selalu berusaha memberi jokes aneh yang meskipun kadang garing tetap membuatku tertawa dan terhibur. ❤️

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==