Alih-alih nangis, aku malah fokus ke rencana mereka selanjutnya. Aku pikir lebih baik begitu karena pikiran jadi bertahan tetap waras. Memang untuk konten jadi nggak seru, nggak ada drama-dramanya.

Bagi orang lain mungkin agak aneh, anak mau berjauhan kok nggak ada sedih-sedihnya. Kami berusaha melepas anak-anak pergi dengan gembira dan optimis. Dramanya sudah habis sepanjang persiapan.
Apakah begitu ringan? Wogh, berat sekali, gais. Tapi kan ada jeda waktu untuk menghadapi hal itu. Jika terasa berat, kami mengingat lagi pembicaraan tentang ini sedari mula.

Ada kalanya kami membiarkan mereka bebas menentukan sendiri keputusan, setelah melewati diskusi bersama kami. Ada juga kata-kata kerasku yang keberatan dengan pilihan langkah mereka, karena kekhawatiran berlebihan. Pernah juga benar-benar melarang dengan serius pakai nangis-nangis.
Pernah juga debat serius, ngotot, menyerahkan keputusan ke anak sendiri, sedih dan khawatir, dan masih banyak lagi.

Hari ini anak kedua berangkat kembali ke asrama di UAE. Mohon doanya studinya dapat kelar di sisa waktu beasiswa ini.
Semoga habis itu dapat beasiswa di wilayah Norway sana, biar bisa ajak emak bapak lihat Aurora Borealis. Aamiin.

Alhamdulillah. Masya Allah, tabarakallah. Allahumma baarik ‘alaih


