“Jadi nggak dijual?”
“Masak sih dua puluh lima ribu? Ini mesin tik bersejarah!”
“Ya, sudah! Saya naikin empat puluh! Mau nggak? Sekarang tuh orang-orang pake laptop, handphone!”
“Lha, kenapa Bapak mau beli mesin tik ini?”

“Situ kenapa mau jual?”
“Aku butuh duit untuk beli beras, Pak! Bapak beli mesin tik ini buat apa?”
“Suka ada yang nyari buat syuting film,” si bapak membereskan letak kipas angin yang masih baru ke dekat barang-barang eletronik lainnya.
Aku meneliti barang-barang bekas yang diatur rapih. Di trotoar berderet mesin cuci dan lemari es. Ada kotak-kotak kayu berisi handphone bekas. Asesori motor seperti spakbor depan motor, gir, rantai, shockbreaker, digantung. Sepatu-sepatu bermerek berjejer mengundang selera.
“Gimana? Jadi nggak?”

“Lima puluh ya, Pak,” nadaku memelas. Pandemi Covid-19 ini kurang ajar! Beberapa proyek pekerjaanku di luar Jawa batal! Perusahaan-perusahaan yang biasa menyewa jasaku sebagai orang yang mengerti tentang generator untuk tenaga listrik bangkrut. Otomatis berdampak buruk kepadaku. Mobl sudah aku jual. Dari mulai mobil mewah, kemudian berganti ke mobil pick up. Sekarang aku tidak memakai kendaraan apa-apa. Aku mati kutu.

Setiap awal bulan aku berkunjung ke rumah teman-teman semasa sekolah yang masih stabil ekonominya. Aku berharap mereka bersedekah. Anakku empat. Si sulung sedang menyelesaikan skripsi, nomor dua masih kuliah dan membutuhkan biaya besar. Anak ketiga di SMA, dan si bungsu di SMP. Isteriku berusaha keras berjualan, tapi selalu modal habis dimakan sendiri.
“Lima puluh ya, Pak!”

Bapak tua itu menatapku dengan iba. Dia mengangguk dan mengambil mesin tik dari tanganku. Tapi tiba-tiba terdengar teriakan. Ah! Aku mengenal suara teriakan itu. Hendra!
“Kamu, ya!” Hendra memarkir motor.
Aku menghela napas berat. “Sorry, Bro,” nadaku penuh penyesalan. “Aku pikir mesin tikmu ini sudah tidak dipakai.”
“Memang nggak aku pakai,” Hendra mendekati bapak tua. Dia tersenyum, “Maaf ya, Pak. Ini mesin tik punya saya. Temanku ini khilaf. Dia tadi ngambil mesin tik saya. Dia sedang kesulitan uang.”
Bapak tua hanya geleng-geleng kepala. Aku menunduk malu.
***
*) Café 77, Pantai Metina, Ba’a, Rote Ndao.


