Noorca M. Massardi: Segala Sudah Ia Punya

Tentu aku berbeda level dan kualitas dengan Noorca dan istrinya – Rayni N. Massardi, yang juga seniman. Saya dan Tias Tatanka tidak hendak dan tentu tidak akan pernah bisa menyamai prestasi mereka. Tapi menjadi sahabat mereka saja sudah suatu prestasi. Kami sangat senang jika ada seniman yang juga sukses dalam membina dan membangun keluarga (besar).

Buku-bukunya banyak di rak. Bertebaran. Tadi datang lagi kiriman 2 buku, yaitu “Ketika 66” (KPG, 2020) yang merah dan “Setelah 17 Tahun” (Gramedia, 2016). Saya juga membaca karya kakaknya Yudhistira ANM Massardi. Mereka keluarga penulis, yang mengagumkan.

Saya tertarik membuka “Ketika 66”. Aku tertegun ketika membaca di halaman dedikasi :

untuk rayni
kekasihku, istriku
ibu dari anak-anakku
nenek dari cucu-cucuku
sejak awalku hingga tiba akhirku

Ketika 66, Kepustakaan Populer Gramedia, Februari 2020

Ucapan yang sederhana dan tulus. Tidak semua orang bisa melakukannya.

Buku merah berisi 66 puisi yang secara konsisten semua judul puisinya diawali dengan kata “Ketika”. Tafsirku terhadap buku ini adalah tentang perjalanan spiritual Noorca menyikapi fenomena negeri ini, yang sudah kehilangan akal sehat, hilang kepakaran gara-gara internet.

Ini adalah kado untuk dirinya, yang pada Februari 2020 berumur 66 tahun. Aku selalu kagum kepada orang-orang yang nerayakan hari kelahirannya dengan merencanakan sesuatu yang berharga – tidak sekadar pesta hura-hura. Dan menulis puisi sebagai hadiah untuk hari kelahirannya(dan tentu akan berdampak kepada pembaca) adalah cara berpikir yang tidak biasa dan sungguh istimewa.

Di epilognya Wayan Jengki Sunarta menulis, “Puisi-puisi dalam buku ini dibangun dengan sintaksis puitik yang sederhana, sehingga membuka peluang bagi siapa pun untuk menyelami dan menghayati keindahan serta kedalaman renungannya.”

Sebelum buku ini terbit, saya sudah terpukau dengan pembacaan puisi “Ketika 66” di akun YouTube Noorca. Betapa bahagia raut wajah Noorca. Segala yang didambakan penulis sudah ia punya. Ia sudah menggenggam dunia bersama istrinya.

Maka ketika kubaca bait pertama puisinya yang berjudul “Ketika Mati” :

apa dibawa ketika tiba
selain jasad yang dingin
selain kafan dan nisan
selain amal ibadah
selain akhlak dan ilmu
selain nista dan dosa
selain sumpah dan marwah
selain gunjing dan puji
selain marhum dan mendiang
…..

Ada 6 bait lagi yang membut tubuhku bergetar. Terasa Noorca sedang berdzikir kepada-Nya, mengingatkan kita, mengingatkanku, bahwa pada akhirnya kita akan mati.

*) Gol A Gong, Komunitas Rumah Dunia, 17 Juni 2020

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==