Orakadut: Kota Golokali Mencari Jati Diri

“Kamu pasti menyembunyikannya!” hardik Pak Polisi.
“Menyembunyikan apa?”
“Jati diri!”
“Jati diri apa?”
“Jati diri kita, kota Golokali. Identitas kita!”
“Waduh, orang gila kayak saya, kok, ditanya jati diri!”

Hari lain, bahkan Raja Kota Golokali, diantar banyak kurcacinya, dilingkari keamanan kelas satu dan para DJ televisi, ditandu menuruni pinggir kali. Si Raja – tanpa turun dari tandu, menghardik Orakadut.

“Kamu jangan main-main dengan aku, Raja Kota Golokali!”
“Bukankah dari dulu saya selalu mempermainkan Paduka, Raja yang terhormat?” Orakadut cenderung meledek.
“Tapi kali ini keterlaluan kamu! Sungguh! Ini melukai perasaan aku, sebagai Rajamu!”

“Apakah itu gerangan, Paduka Raja yang dihormati?”
“Jati diri! Jati diri kita! Pasti kamu sembunyikan di gubukmu yang rombeng itu!”
“Dari dulu, sebagai orang gila dari Kota Golokali, saya sudah tidak mempunyai jati diri, Paduka Raja yang gila hormat.”
“Hmmm….”

“Kalau boleh tahu, yang paduka Raja cari itu ‘jati diri’ yang bentuknya seperti apa?”
“Itu, leluluhur kita! Patung, patung para pendiri Kota Golokali!”
“Lho?” Orakadut tertawa. “Patung leluhur kita?”
“Mana, mana? Jangan bikin ulah kamu, Orakadut!”
“Ini menolak lupa, ya?”
“Grrrrhhhh…!”

“Bukankah ayah paduka Raja yang kemaruk harta, yang menghancurkan patungnya? Itu supaya Laporan Keuangan Tahunannya diterima oleh Dewan Kota Golokali yang pada pingin ke surga semua?”
“Jangan banyak omong, Orakadut!”
“Katanya patung leluhur kita itu berbahaya! Bisa jadi berhala! Nanti disembah-sembah! Bisa masuk neraka semuanya!”
“Dasar gila kamu! Sudah, mana, mana jati diri kita itu!”
“Jati diri, jati diri! Patung! Patung, Paduka yang guoblok!”
“Hmmmm, menghina kamu!”
Ini bukan menghina! Ini kenyataan!”
“Iya, patung! Mana, mana?”

“Sudah saya hanyutkan ke sungai tadi malam. Cari saja ke laut!”
“Dasar sundel bolong doyan kacang polong kamu!”
“Sana, pergi! Atau mau saya maki-maki lagi? Saya ini orang gila, jadi bebas mau ngomong apa saja. Kalau paduka yang tolol melaporkan saya ke polisi, berarti paduka ikut gila! Mau jadi orang gila, tinggal di gubuk rombeng kayak saya?”

“Grrrrh, dasar otak kuntilanak! Berondong pocong!”
“Sudah, saya mau tidur lagi! Nerusin mimpi jadi orang waras kayak paduka Raja!” Orakadut tersenyum dan masuk ke dalam istana impiannya, gubuk kardus.

Raja Kota Golokali marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

***

*) Foto ini dengan jari membentuk “V” adalah “Victory”. Saya sebagai rakyat mendambakan, Banten memenangkan peperangan melawan kebodohan, korupsi, ketertinggalan dan gurita dinasti.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==