Judul puisi ini seperti pesimistis. Bukankah ini adalh agitasi? Kenapa harus meninggalkan kota yang kita cintai? Apakah kita membiarkan kota kita mati dan membusuk? Secara moral, bagaimana kita mempertanggungjawabkannya kepada anak-cucu kelak? Siapa yang harus kita salahkan? Bacalah puisinya:



Halaman: 1 2

