Puisi ini aku tulis ketika orang-orang sedang sibuk dengan Pilkada Banten. Bagiku, politik dinasti masih sangat kuat mengakar di Banten. Gelap. Begitulah yang aku rasakan dengan masa depan di Banten. Maka aku butuh: matahari. Bacalah puisiku ini:


MATAHARI DI DALAM IMPIAN
Matahari itu tidak seperti dalam impianku, bisa mengubah hujan jadi pelangi. Matahari itu mematikan daun hijau, tak lagi menghidupkan pucuk-pucuk padi petani.
Maka kutanam matahari di halaman rumah kita. Anak-anak masa depan tumbuh berlari bersama pagi yang hangat. Kueja setiap sinarnya dengan air sungai. Kutata dalam hidangan sore kopi pahit. Aku ukir senja di cakrawala untuk mengenangmu.
Matahari di halaman rumah kita tumbuh bersama bulan. Bintang bertaburan menemani mimpi kita. Sawah-sawah mulai menguning. Cerobong asap melahirkan harapan baru.
Matahari seperti itu tidak ada dalam impianku.
- Serang, 1 Mei 2017




