Puisi Membentuk Rukun, Bukan Rukun yang Membentuk Puisi

Oleh Pinto Janir

Soal puisi – apapun jenisnya, seperti puisi esai – wajar saja diperdebatkan dan wajar pula bila tak diperdebatkan. Karena puisi itu selalu menciptakan antara.

Antara suara dan diam. Antara sunyi dan sepi. Antara lengang dan ramai.

Tidak ada produk pikiran dan hati yang tak memancing situasi untuk bicara atau mengabaikannya.

Bagi saya, puisi itu sendiri yang membentuk rukun. Bukan rukun yang membentuk puisi.

Saya juga merasa aneh sekali ketika beberapa orang berupaya mencipta-ciptakan rukun-rukun untuk membaca puisi.

Puisi itu produk di ruang rasa. Karena rasa, ia memiliki daya cipta yang berhulu ke hendak. Kemudian bermuara pada “kerukunan” atau berlabuh di dermaga bahasa yang terpilih.

Rasa dibawa naik.
Periksa dibawa turun.

Hati adalah cipta rasa. Pikiran adalah karsa. Bila ia digabungkan, maka terciptalah energi.

Puisi adalah energi. Ia filsafat. Sebagian besar filsuf adalah sastrawan, tapi sebagian besar pengarang belum tentu seorang filsuf.

Soal buruk atau bagus itu tergantung pola mata memandang dan pola hati menyikapi. Dan, pola di mana tempat kita berdiri.

Adalah adat sebuah dunia… yang selalu ribut dengan hiruk pikuk suara hati dan pikiran.

Kesimpulannya: biarlah!

Puisi bukan agama!

*) Pinto Janir lebih ingin disebut kreator digital.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==