Puisi Minggu: 8 Puisi Encep Abdullah Tentang Hamba yang Rindu Kepada Tuhannya

Menulis puisi bila sekadar iseng, sekadar hiburan, saya kira itu suatu bentuk kemubaziran. Tempatkan ia pada posisi yang agung. Barangkali puisi bisa menjadi wasilah memperbaiki kualitas hidup dan keimanan manusia yang rapuh, bisa menjadi tempat paling asyik saat sedang jatuh cinta dan patah hati. Juga bisa menjadi semacam doa-doa. Bahkan, paling “mengerikan” seperti yang pernah disampaikan saudara saya yang seorang pelukis, “bisa menjadi saksi di hadapan Allah Swt.”.

Selain itu, sastra—dalam hal ini puisi—sejatinya berperan melembutkan perasaan manusia. Buya Hamka dalam buku Kenang-kenangan Hidup mengatakan bahwa ilmu tidak cukup hanya mengenai agama saja. Ilmu yang umum haruslah dipelajari juga. Bukan saja karangan-karangan kitab fiqih yang telah kaku dan beku, bahkan kesusasteraan yang indah, syair (puisi) dan natsar (prosa) harus dimajukan. Cara mengarang hendaklah diperbaiki dan dirombak karena itu semuanya memperhalus perasaan.

Simpulan saya, agama dan sastra sama-sama punya peran melembutkan perasaan manusia. Dalam agama, saya mendalaminya agar ritual ibadah saya sesuai dengan syariat, kehidupan jadi lebih sehat. Dalam sastra, khususnya puisi, ia adalah seni yang meruang, membuka sayap-sayap pengetahuan, dan paling puncak adalah sebagai medium berkontemplasi diri menuju sang Illahi. Seperti yang pernah disampaikan Kuntowijoyo dalam buku Maklumat Sastra Profetik, ia mengatakan bahwa pengarang [Muslim] yang salat dengan rajin, … Islamnya tidaklah kaffah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah. Semoga Dia meridai setiap langkah para penyair!

Selamat membaca puisi-puisi saya!

Encep Abdullah

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==