1.Puisi Encep Abdullah
MELAINI
aku terlalu santai
melupakan Kekasihku
padahal dulu aku merapu
dalam salatku
menangis sejadi-jadinya
meminta sebandela ketenangan jiwa
yang selama ini meronta-ronta
kempuh sekali dalam dadaku
hidup bertarung seguna sekaya
berebut dunia yang papa
aku terlalu santai
meninggalkan Kekasihku
aku tak begitu bancar
menghalau senjata para iblis
yang berbisik taksa
bahwa Kekasihku tetap mencintaku
meski dalam segala kemunafikanku
aku tak percaya bahwa ini tulah Tuhan
menghukumku sebagai seorang bajingan
yang melanggar segala mandat-Nya
Kiara, 2 September 2023


2.Puisi Encep Abdullah
MEMBUNUH BERHALA
UNTUK DIA
dalam diriku
kefakiran membabi buta
menutup cahaya
malaikat datang
menjelma perempuan tua
menjenguk jasadku yang leta
nenek itu menengadah
perutnya letak
bibirnya kerontang
sukmaku mendadak gemetar
aku hanya punya sepuluh ribu
sedangkan aku harus menyuapi istriku
”aku tidak apa-apa,” ujar istriku
perempuan renta itu aku suapi
dengan sepiring mahabbah
malam hari
kemaluanku yang lama mati
mendadak hidup
istriku riang bukan kepalang
aku beranak-pinak dan berbahagia
berhala kikir dalam diriku sudah mampus
berhala yang lain menyerangku
Kiara—Pontang, 2023—2024


3.Puisi Encep Abdullah
MERAYAKAN KELAHIRAN
kematian adalah kelahiran
yang aku rindukan
Kiara, 9 November 2023


4.Puisi Encep Abdullah
IBLIS
lagi-lagi aku rujuk
padahal kau sudah kuracun
dengan segala kekhidmatanku
saat nafsuku di ubun-ubun
kau pandai menyusup dalam darahku
kau masuk begitu santuy
tipu dayamu melenakan
mulutmu bak permen alpenlibe
aku orgasme berkali-kali
melayang dalam ninabobomu
saat aku kelesah terlalu jauh
Tuhan mengetuk lagi pintu hatiku
aku menginsyafi segala kemalanganku
bisikan-Nya jauh lebih manis ketimbang iblis
bahkan lebih manis dari apa pun
yang paling manis di dunia ini
aku terbuai
aku terlena
aku melayang
iblis hangus terbakar
Kiara, 2023—2024



