5.Puisi Encep Abdullah
BAGAIMANAPUN AKU TAK BISA MENCIPTAKAN SAYAPKU SENDIRI
sebelum aku dilahirkan ke dunia
sayap-sayap cinta-Mu sudah Kau siapkan untukku
agar aku bisa terbang tinggi
setelah aku punya ilmu, harta, tahta, wanita
aku buang sayap-sayap cinta-Mu itu
aku bisa bertarung dengan segala upayaku
hingga babak belur
aku punya segala dan bisa menjelma apa pun
yang aku mau sesuai kehendakku
lamat-lamat dunia makin usang
aku lelah mengejar bayang-bayangku sendiri
aku berbalik badan
biarkan bayang-bayang yang mengejarku
kukenakan lagi sayap-sayap cinta-Mu
aku terbang bersama arah angin-Mu
Kiara, 13 Januari 2024


6.Puisi Encep Abdullah
LUKA DUKA
mengapa aku masih berduka pada luka
bukankah segala luka
adalah pisau yang tuhan ciptakan
agar hamba bisa berserah penuh pasrah
seperti kata Chairil:
duka mahatuan bertahta
aku tak bisa kekal pada kebahagiaan
ada lorong-lorong sunyi yang harus kulewati
ada gerbang-gerbang maut yang harus kuimani
duka dan ajal bukanlah semata kutukan-Nya
ia datang untuk mengetuk jiwa-jiwa sembahyangku
azab kepadaku tak hanya datang dalam ruang-ruang kasat mata
atau dalam bentuk kiamat kecil
berupa tsunami dan tanah longsor
duka paling duka adalah tercabutnya ruang-ruang sunyi
pada lisan dan kalbuku yang semakin menjauh dari nur
yang tersisa hanya jasad kosong
sedang hatinya menyimpan amuk api yang membara
dan kata-kataku hanyalah tong kosong
yang nyaring bunyinya
Pipitan, 31 Oktober 2018


7.Puisi Encep Abdullah
KEPADA BAPAK
: bil hal
i
pak, darimu aku belajar aksara
membaca ayat-ayat semesta
lewat kitab-kitab gundul klasik
yang sukar dibaca
juga dari buku-buku umum dan agama
yang berceceran di sudut-sudut rumah
menghantarkanku pada syahwat membaca
yang bergejolak
ii
pak, darimu aku belajar syariat
bahwa hidup harus punya pedoman
hidup tak bisa asal hidup
setiap tarekat harus membawa kepada hakikat
berpegang teguh pada agama
katamu, itulah cara agar jiwa tak lekas sekarat
iii
pak, darimu aku belajar diam
bahwa dengki dan kebencian
harus segera diredam
dalam ruang paling sunyi
katamu, setan tercipta dari api
dan keimanan adalah air paling suci
iv
pak, darimu aku belajar waras
bahwa cinta tak melulu belaian
kau bilang tuhan akan terus menguji
memahat tubuhku menjadi karya seni
v
pak, darimu aku belajar tawadu
kesombongan bukanlah jalan menuju tuhan
katamu hidup harus seperti padi
kian berisi kian merunduk
vi
pak, darimu aku belajar hidup
bahwa hidup adalah menghidupi
memberi cahaya
kepada segenap jiwa yang mati
Pipitan, 21—28 November 2018


8.Puisi Encep Abdullah
RAHIM DUNIA
1
mak, kau manusia paling sakti di dunia
kau mampu memikul gunung di bahu sendiri
di balik tabir getar tubuhmu
tak pernah jua kau tunjukkan
betapa berat gunung itu
kau hanya bilang, “ini hanya batu kerikil, nak.”
2
mak, aku bisa makan lahap dan kenyang lebih dulu
tapi kau hanya bersenyum-simpul kala aku berserdawa
perutmu kosong, mulutmu tak pernah ngomong
rasa laparmu adalah pisau derita
yang membisu disimpan waktu
ketika beras dan lauk habis dan membusuk
kau bilang, “ibu sedang memasak enak, sebentar lagi matang, nak.”
padahal yang kau masak adalah luka
adalah air mata yang menganak sungai
3
mak, hidupmu adalah cahaya matahari
pagi hari kau menyapa segudang cucian yang lepek dan apek
lalu menjemurnya hingga baju-baju itu kering
tapi tubuhmu belum jua ikut mengering
piring-piring di dapur harus berdenting
kau sapu sisa-sisa makananku yang tak bisa disapu oleh angin
hingga aku bisa kembali berbaju dan wangi
hingga aku bisa kembali makan dan kenyang
4
mak, rambutmu kian memutih
hidupmu semakin sunyi
aku malah lebih asyik sendiri bersama anak dan istri
tapi, kau tak pernah mencuri hati anakmu
mengapa anakmu mencari jalan hidup sendiri
kau tahu betul, apa kau memang membaca chairil
bahwa hidup adalah kesunyian masing-masing
meski kerap, air matamu jatuh dalam rukuk dan sujud
kau tak pernah alpa mengeja namaku dalam doa
5
mak, dari rahimmu aku ada
di telapak kakimu aku masih mencari surga
Pipitan, 21—28 November 2018

TENTANG PENYAIR: Encep Abdullah, pendiri Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) dan Dewan Redaksi NGEWIYAK.com. Menulis buku puisi Tuhan dalam Tahun (2014) dan Dandan Kawin (2019). Kontak 087771480255.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Sertakan bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 150.000. Sertakan bank dan nomor rekeningnya.

Segera tayang 5 Puisi Zaeni Boli Tentang Perjalanan di Puisi Minggu edisi #7, Minggu 18 Februari 2024:


