Puisi Minggu: Pergi dari Rumah Karya Gol A Gong

Aku pergi dari rumah. Dari kota ke kota, mengenal orang-orang baru, ke gunung menunggu fajar, ke pantai mengejar senja, mencari Tuhan di kuil, masjid, dan gereja.

Aku pergi dari rumah mencari makna filosofis traveling. Apa makna stasiun bagiku. Menunggu fajar di gunung, apa yang aku temukan. Tuhan? Hari baru? Kebahagian?

Aku pergi dari rumah mencari senja di pantai. Apa yang aku temukan? Hari tua? Aku sudah menemukan apa? Banyak bertemu oran baru, sudah bertemukah dengan yang aku cari?

Tentang rindu yang menggelora. Apakah di dalam perjalananku itu ada rasa rindu? Makna rindu itu apa? Lalu rumah. Setelah pergi traveling, adakah rumah bagiku pulang? Adakah aku memiliki istri dan anak? Adakah rumah yang kutinggalkan?

Gol A Gong

oOo

Puisi Gol A Gong
STASIUN

Di stasiun kereta, aku menunggu seperti daun yang siap jatuh dari ranting.
Ransel kuseret, terasa berat oleh ingatan yang belum ingin pergi.
Kereta datang tanpa pemberitahuan seperti garis takdir yang ditarik lurus.
Aku melangkah, meninggalkan rumah seperti menutup sebuah doa.

Stasiun menawari jeda antara dulu dan nanti, berangkat dan pergi.
Tempat bayangan orang asing bersilang seperti peta rahasia di dalam saku.
Aku belajar bahwa kepergian adalah guru paling sabar.
Dan setiap peluit adalah pengingat bahwa diam pun harus bergerak.

Di kaca jendela, wajahku terbelah antara masa lalu dan ingin tahu.
Stasiun menjadi pintu tempat makna menunggu untuk dipungut.
Aku sadar perjalanan bukan soal jarak, tapi keberanian menanggalkan luka lama.
Di sini, aku memulai pencarian yang tidak tahu kapan harus pulang.

Tegal, Juni 225

Puisi Gol A Gong
FAJAR DI GUNUNG

Di punggung gunung, aku duduk di batu seperti siput kecil tak berguna.
Angin menepuk pundakku, membawa kabar yang datang dari ingatan.
Kabut menutup lembah seperti rahasia yang belum siap aku bagi.
Aku menunggu fajar seperti usia menunggu jawaban paling jujur.

Saat cahaya pertama menyentuh tebing, hatiku terbelah di simpang jalan.
Ada sesuatu yang lebih tua dari waktu berdiri di hadapanku dengan pongah.
Mungkin Tuhan bersembunyi di sela warna itu, pelangi setelah hujan.
Atau mungkin Tuhan hanya ingin aku belajar mendengar dari bisikan angin.

Ketika matahari muncul penuh, dunia terasa baru dipindahkan ke album foto.
Aku merasakan harapan tumbuh seperti rumput dan bunga mekar setelah hujan
Hari baru ranum di ujung dahan, menghapus rasa lelah dalam perjalanan .
Di puncak itu, kebahagiaan sederhana menjadi paling benar bersama matahari.

Tegal, Juni 2025

Puisi Gol A Gong
SENJA DI PANTAI

Ombak datang dan pergi seperti pertanyaanku yang belum terjawab
Aku mengejar senja seperti mengejar bayangan masa depan yang jauh.
Langit berubah warna seperti hati yang sedang memilih keempat arah.
Pantai menjadi halaman buku yang berdebur ingin kubaca pelan.

Bertemu orang baru mengajarkanku bentuk lain dari diriku.
Setiap nama adalah lentera yang menuntun sebentar.
Namun saat senja jatuh, aku bertanya lagi, apa yang kucari.
Dan kenapa jawabannya selalu lari lebih cepat dari langkahku.

Di garis laut yang menyala, aku melihat umur yang berjalan.
Hari tua terasa seperti cahaya terakhir di ujung air.
Tapi ada kedamaian kecil yang duduk di sampingku.
Mungkin aku sudah dekat dengan apa yang kucari, meski belum tahu nama.

Tegal Juni 2025

Puisi Gol A Gong
RINDU

Rindu datang seperti angin yang mengusik misteri malamku.
Ia tidak terlihat, tapi kurasakan menggulung dada yang sesak.
Di setiap kota, rindu menjadi kompas yang tersembunyi di setiap angka.
Menarikku kembali pada sesuatu yang tak bisa kupahami penuh.

Dalam langkah panjang, rindu adalah api kecil yang bisa berkobar.
Ia tidak membakar, hanya menjaga hati tetap hidup.
Kadang ia mengajak pulang, kadang menyuruhku jalan terus.
Seakan rindu punya dua sisi tajam yang siap menyayat malamku.

Aku sadar rindu bukan tentang siapa, tapi tentang arti tempatku berdiri.
Ia mengingatkan bahwa aku tidak seluruhnya milik angin dan debu jalan.
Bahwa di balik setiap horizon, ada bayangan yang memanggil perlahan.
Dan aku berjalan sambil membawa getarannya seperti doa samar.

Cirebon, Juli 2025

Puisi Gol A Gong
RUMAH

Ketika perjalanan memanjang, aku bertanya di dalam hati.
Adakah rumah yang menunggu seperti lentera di jendela.
Adakah istri yang menata pagi, anak yang memanggil pelan.
Atau rumah itu sudah lama kutinggalkan tanpa pesan.

Aku melangkah dari kota ke kota seperti burung yang lupa sarang.
Setiap tempat terasa singgah, bukan tinggal.
Tapi kadang wajah orang asing memantulkan kehangatan.
Seakan rumah bisa muncul dari senyum yang tidak sengaja.

Saat akhirnya aku berhenti, ranselku jatuh dengan berat yang jujur.
Di hadapanku mungkin rumah menunggu, atau mungkin hanya sunyi.
Tapi aku tahu rumah bukan selalu bangunan atau keluarga.
Rumah adalah tempat hati selesai berkelana.

Sukabumi, Agustus 2025

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==