Ternyata dekat pintu keluar stasiun Pasar Seni, ada lagi yang membagi produk sama. Tapi rasa coklat, jadi aku minta hubby ambil lagi aja. Lumayan berguna buat mengganjal saat sahur selama di KL, walaupun dicampur dengan air biasa, lalu kukocok dalam botol air mineral. Alhamdulillah.

Oatmeal sisanya kusimpan, sampai kami berangkat ke Penang. Dari stasiun Pasar Seni, kami ke KL Sentral lagi, untuk ambil jurusan Butterworth. Dari situ kami naik ferry, lalu bersandar di bahumu, eh di dermaga Georgetown. Di terminal dapat info ada bis gratis, buru-buru naiklah kami. Di pusat kota, kami turun dan berunding, mau menginap di hotel mana.
Hubby lalu memilihkan sebuah hotel, capcipcup kembang kuncup. Hubby berhenti sampai di mana hati meyakini, terutama karena di depan hotel ada masjid Bengali. Alhamdulillah harga cucok meong. Kami segera cek in dan rebahan merasakan udara dingin AC setelah jalan memanggul ransel di bawah terik matahari.

Sorenya udah mikir ke mana cari hidangan buka puasa. Aku mengeluarkan perbekalan tersisa berupa oatmeal instan rasa vanilla. Untung ada pemanas air, jadi lumayan terasa oatmeal-nya. Ketika hubby cari makanan buka, beliau lewat masjid. Ada yang berbagi takjil di dekat situ.
“Apa ini?” tanyaku heran melihat belanjaan hubby.
“Nggak tahu, ada yang ngasih ya diterima,” jawab hubby. Kami tertawa lucu.
Selesai makan nasi putih dan ceplok telur, aku membuka bungkus plastik itu.
Berhubung tak ada mangkuk, jadilah aku makan dari plastik dengan menggunakan sendok teh yang disediakan hotel.


