Kami kerap membincangkan kondisi mertua yang tinggal berdua saja di rumah lama, dengan kondisi bapak mertuaku sudah tidak dapat berjalan.
“Pindah ke sini aja kalau begitu,” cetusku yakin. Suamiku menoleh, memandangku tak percaya.

“Mamah yakin? Sudah banyak cerita, tinggal sama mertua bakal ada masalah,” kata suamiku hati-hati.
“Iya, tahu. Mungkin nanti juga akan ada masalah, tinggal bagaimana menghadapinya. Sekarang solusi terbaik Emak dan Bapak pindah ke sini. Biar ada yang menjaga mereka,” kataku.
Suamiku jadi lebih tenang. “Makasih, Mamah. Nanti kita siapkan kamar depan, ya!”

“Lho, kok kamar depan? Emak sama Bapak di kamar kita aja. Kita yang di kamar depan,” sahutku. Suamiku masih melongo. Ia mungkin tak percaya istrinya memutuskan begitu.
Kami baru saja membeli ranjang dan lemari satu set. Kamar baru selesai ditata ulang. Dua kamar depan sudah disiapkan untuk dua anak. Sepertinya kami siap menjelang tahapan baru dalam berumah tangga. Lalu, itu akan diubah karena kedatangan sepasang nenek kakek?

“Mamah yakin?” tanya suamiku lagi.
“Iya. Apa tega kita melihat Emak bolak-balik ke kamar mandi yang agak jauh, sementara kamar kita ada kamar mandi dalam?” tanyaku menyodorkan pilihan.
Suamiku tidak menjawab lagi, cuma memelukku. Aku tahu itu caranya berterima kasih.
Rumah Dunia, 6 Maret 2024


