Surat dari Qatar: Sebuah resensi untuk Dwilogi Kembara Rindu dan Suluh Rindu

Mengendalikan Ego. Itulah nafas terbesar dwilogi Kembara Rindu dan Suluh Rindu, hampir setiap tokoh di novel ini memiliki musuh yang sama: diri sendiri.

Dari Ridho harus belajar dengan pahit bagaimana lelahnya mengejar dunia, tapi setelah menahan sedikit ego mereka dengan mengejar akhirat, dia malah akhirnya mendapatkan dua-duanya. Dari Ridho kita belajar menjaga adab terhadap guru dan orang tua dengan menuruti perintah mereka walau pun kadang menantang dan menentang ego kita. Dari Ridho kita belajar untuk berkorban menghapus ego untuk manfaat yang lebih besar untuk orang-orang di sekitar kita. Dari Ridho kita harus mengerti bahwa hidup adalah perjuangan dan tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan.

Perjalanan hidup Ridho dari santri khadim seorang kyai menjadi pengelola pesantren dan kyai besar tidaklah seperti jalan tol yang mulus, melainkan jalan hidup yang penuh onak dan duri serta jurang, parit yang selalu menghadang.

Dari Ridho kita belajar bahwa jodoh kita tidak terlihat bukan karena jauh, tapi ternyata selama ini ada di pelupuk mata.

Dari Zumroh dan Rosma kita belajar bahwa di usia senja juga menghadapi ego berupa dendam dan sakit hati dari masa lalu. Betapa sulitnya melupakan dendam dan kepedihan. Betapa sulitnya mengakui kesalahan dan meminta maaf karena menuruti ego.

Dari Lina dan Diana kita belajar bagaimana bisa menekan ego untuk jangan pernah menganggap diri lebih mulia dari siapa pun ketika memilah dan memilih jodoh

Dari Syifa kita belajar bahwa dalam hidup, kadang kita mengambil keputusan besar yang salah dan harus sigap memperbaiki dan tidak mengulangi. Dari Syifa dan Ridho kita bisa belajar bahwa Al Qurán adalah syafaat, dan ilmu adalah cahaya yang pasti membawa manfaat dunia akhirat.

Tidaklah salah kalau setiap novel kang Abik disebut Pembangun Jiwa karena sangat kaya dengan ilmu yang sangat bergizi untuk hati.

Selamat menikmati 266+592 halaman romansa cinta yang unik dengan latar belakang dunia pesantren dan penuntut ilmu, dari Lampung hingga ke Cirebon. Selamat bertualang dari Parung, Mesir, Yordania hingga ke Leicester ini dengan mata berdenyar-denyar dan berbinar karena melimpah ruahnya nasihat dari para ulama dan indahnya romansa cinta yang kadang tertunda.

Doha, Qatar
Tepat tengah malam, 00:05 Waktu Qatar.

bukurepublika #kangabik #komunitaspembacabuku #bookreview #novel #fiksi #didaytea

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==