Hilman Lemri: Penuls yang Mendambakan Perpustakaan Ideal di Pandeglang

30 tahun lalu, persis di kaki Gunung Pulosari, saya lahir. Hilman Irmansyah kemudian menjadi nama yang dipilih oleh orangtua saya sebagai penanda seumur hidup. Namun, karena perjalanan di panggung kepenulisan, kemudian nama itu saya poles menjadi Hilman Lemri karena saya kira nama ini memberi energi lain. Saya lahir dan hidup dalam tradisi intelektual di Kecamatan Menes yang sudah tinggi, karena ada perguruan Islam Mathla’ul Anwar (bahasa Arab, yang artinya tempat lahirnya cahaya), dan tentunya salah satu basis besar Nahdlatul Ulama.

Saya dan Polisi Tidur

Oleh Hilman Lemri*

Beberapa hari lalu ketika saya menikmati akhir pekan dengan mengendarai sepeda motor tiba-tiba badan dan motor saya terguncang. Di dalam perut seperti ada yang naik, mungkin saja itu serupa asam lambung yang juga kaget karena hentakan yang diterima oleh tubuh. Hal ini tidak lain karena saya tidak memerhatikan polisi tidur yang saya hajar dengan kecepatan yang lumayan. Saya pun jadi ingat dengan Bapak yang ketika saya bonceng seringkali mengeluh karena perut dan pinggangnya sakit ketika motor yang saya kendarai melewati polisi tidur apalagi dengan cara yang mendadak meski saya rasa ketika bersama Bapak laju kecepatan motor saya kurangi.

Buah Jatuh Tidak Jauh dari Pohonnya

Hilman Lemri – Relawan Rumah Dunia

Di Bandung ada Abah Apih, pemilik kos-kosan dan fotocopy depan kampus UNPAD, yang selalu mengingatkan tingkah dan laku saya, karena tingkah dan laku kita, laku baik dan buruk saat ini akan berdampak kepada anak kita.

Pendidikan Jangan Memutus Kreativitas

“Banyak konsep pendidikan yang harus kita gugat,” begitu kurang lebih yang saya dengar dari Muhajir Effendi – Pak Mendikbud beberapa waktu lalu ketika mengunjungi kegiatan “Literasi Bagi Negeri” Forum TBM di Komunitas Rumah Dunia di Serang, Banten.

Kalau begitu, “Mari, Pak! Sebab konsep-konsep pendidikan, utamanya di bidang formal, seharusnya tidak memutus kreativitas dan terlampau prosedural serta harus berkeadilan” .

Hilman Lemri

Museum Literasi Gol A Gong Kedatangan Tamu

Pada Senin 26 Oktober 2020 lalu, Museum Literasi Gol A Gong yang terletak di areal dalam Rumah Dunia, kedatangan tamu dua penulis. Pertama Hilman Lemri dari Menes, Pandeglang. Hilman sehari-hari sebagai editor di Untirta Press. Hilman menyumbangkan beberapa buku karyanya. “Museum Literasi yang dibuat oleh penulis seperti Mas Gol A Gong, nanti akan berguna di masa depan. Terutama untuk penelitian ‘Gerakan Literasi di Banten’ sangat berguna.”

Penulis Pandeglang Menyumbang Buku ke Museum Literasi Gol A Gong

Museum sangat penting sebagai stimulus untuk generasi muda dalam berkarya. Gol A Gong melakukan sendiri di rumahnya dengan membuka Museum Literasi Gol A Gong. Begitupun dengan Andrea Hirata. Ia juga membuka Museum di Babel sana. Sementara saya belum bisa bikin museum, maka hal yang bisa saya lakukan adalah menyumbangkan buku karya saya untuk di koleksi dalam sebuah museum pada Senin, 26 Oktober 2020. Bagaimana dengan Anda? (Hilman Lemri)

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)