Ya, waktunya berkelana lagi dengan Si Lexy -motor Yamaha hitamku. Aku mau cari-cari lokasi yangbagus untuk lokasi film-film pendekku. Siapa tahu nabti kepake.
Waktunya Berkelana Kembali

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Ya, waktunya berkelana lagi dengan Si Lexy -motor Yamaha hitamku. Aku mau cari-cari lokasi yangbagus untuk lokasi film-film pendekku. Siapa tahu nabti kepake.

Sekali lagi, nonton film pendekku Catharsis, ya. Jangan ragu memberiku kritik dan saran. Kata ayah, kalau kita selesai berkarya, yang akan kita dapatkan adalah kritik pedas, bahkan hinaan. Tapi yang penting, yang membedakan aku dengan yang mengkritik adalah aku tetap berkarya dengan memperbaikinya.

Setiap bulan kami bisa bertualang 4x, berarti seminggu 1x, kami menyisihkan waktu untuk menikmati masa muda. “Muda berkelana, tua bercerita.” Ini adalah prinsipku di awal masuk kuliah. Kelihatannya enak banget ya, seperti tidak memikirkan masa depan.

Dengan sabar aku memahami dan mencerna, tetapi sama sekali aku tidak bisa mengerti. Aku memutuskan untuk belajar sendiri dan meminta waktu 1 minggu untuk belajar bahasa Jepang dengan cara otodidak.

Sudah mau seminggu aku merantau kembali di Jogja, dan aktivitas keseharianku sangat membosankan, berbeda dibandingkan saat di rumah kemarin. Kalau sewaktu liburan di rumah di Serang, aku bisa membuat project-projectku berikutnya bersama teman-teman.

Aku pernah ikut dalam project tugas akhir semester, disuruh membuat film. Kami membentuk sebuah kelompok. Dan aku menjadi penulis naskahnya. Proeses yang dibutuhkan sekitar 6 bulan untuk melahirkan sebuah cerita. Karena kami mendiskusian bersama dosen dari awal, menentukan 3D karakternya, menentukan dialognya menggunakan bahasa apa, lalu meriset di online, meriset di lapangan dengan cara memawancarai masyarakat, dll.

Setelah mengobrol dengan Om Arip, relawan Rumah Dunia yang sekarang bekerja di Australia, aku merasa sangat percaya diri dan fokus kepada diriku sendiri di tahun 2025 ini. Tetapi, aku baru bisa memulai setelah aku menuntaskan kewajibanku kepada orang tua untuk lulus kuliah di JFA (Jogja Film Academy).

Tanggal 4 Februari 2025, aku mulai fokus dengan kewajibanku menjadi seorang mahasiswa. Aku mencicil urusan-urusan untuk seminar proposal di semester 5. Aku bener bener fokus agar bisa lulus cepat dan sebagai bentuk tanggung jawab atau komitmentku bersama orang tua.

Sekarang aku kembali menapakkan kaki di tanah rantau, seperti merasa baru pertama kali lagi merantau ke Yogyakarta. Agak lupa dengan kota Yogyakarta itu seperti apa, padahal udah 3 tahun aku di Yogya. kembalinya aku menginjakan kaki di tanah rantau, karena aku ingin menggali ilmu kembali.

Banyak sekali pengalaman yang aku dapatkan dari film eksperimental ini. Pertama, harus sabar dengan aktor yang bertingkah seenaknya, harus sabar dengan para wisatawan yang berkunjung agar tidak masuk ke dalam frame, harus sabar menunggu aktor yang tidur. Alhasil berantakan. Aku harus rela jika film eksperimental kedua ini hasilnya tidak maksimal, tapi bukan berarti aku menyerah sampai disini. Justru pengalaman ini yang membuat aku berkembang untuk menjadi lebih baik di project berikutnya.

Aku berharap semoga ilmu yang aku berikan dapat bermanfaat, dan untuk kalian yang suka membuat film atau penasaran rasanya main film itu seperti apa sih. Bisa langsung DM di instagram @jordy.a.h (*)

Di usiaku yang ke-20 tahun, aku sudah berhenti bermain game dan mengubur dalam-dalam mimpiku menjadi seorang gamer. Kini aku memilih untuk fokus membuat karya di bidang lain.

Dua anak Presiden Rumah Dunia; Jordy (anak Gol A Gong) dan Isa (anak Firman Venayaksa) berkolaborasi membuat film pendek. Mereka Gen Z dan memberi judul film Pendek: Death Before Dying

Aku memberanikan diri untuk membuat sebuah film pertamaku yang selama hampir 3 tahun belum berani membuat film hasil ide dan garapan diri sendiri

Terimakasih banyak om Salam, atas semua ilmu yang telah diberikan kepada aku. Tanpamu, aku tidak akan bisa jadi seorang mahasiswa film. Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga kebaikan beliau bisa menjadi jalan menuju pintu surga