Aku belajar mengganti rasa curiga menjadi waspada, rasa jijik menjadi maklum, dan mengatasi ketakutan terhadap tempat baru yang grungy.
Inkoktober 16: Grungy

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Aku belajar mengganti rasa curiga menjadi waspada, rasa jijik menjadi maklum, dan mengatasi ketakutan terhadap tempat baru yang grungy.

Buku akuntansi itu diisi dengan tulisan latin dan miring. Alat tulisnya adalah pena, yang memiliki tabung untuk isi tinta, dan ujung pena dari logam yang terbelah. Ada bulatan di bagian ujungnya, di situlah tinta berkumpul dan menetes mengikuti tarikan tangan penulisnya.

Tiga pilar itulah yang kemudian membentuk saya seperti sekarang ini. Kekuatiran lingkungan bahwa saya akan jadi beban sebagai orang cacat di masa depan – alhamdulillah – tidak terbukti. Buku membuat saya jadi berdaya. Itu sebabnya ketika Perpustakaan Nasional menetapkan saya sebagai Duta Baca Indonesia, 30 April 2021, tagline yang saya usung adalah “Berdaya dengan Buku”.

Sungguh menyesakkan selesai menonton filmnya. Aku sampai beli DVD-nya dari Amazon, menontonnya berulang kali dan selalu berakhir dengan menyesalkan mengapa harus setragis itu hidupnya.

Setiap saya hendak mengajak istri berhubungan, saya selalu mengingatkan kepada isteri agar perut tidak boleh kosong. Harus kenyang. Asupan gizi sangat penting.

Tampil modis dan unik, itu semacam kewajiban saya sebagai Duta Baca Indonesia. Ini terjait dengan “ritual” foto-foto setelah acara selesai. Dengan tampil seperti itu, saya bisa lebih mudah mengkomunikasikan tentang betapa pentingnya membaca dan menulis.

Selesai makan ketupat tahu, hubby masih mengobrol dengan pedagang batu akik. Aku permisi menunggu di mobil. Langsung kuteruskan sketsaku, alhamdulillah dapat setengah pencapaian. Masya Allah, tabarakallah, allahumma baarik ‘alaih. Memanglah keras kepala aku tuh soal konsistensi pada hobi.

Aku sangat akrab dengan snack. Apalagi jika malam hari saat hubbi menulis. Pasti harus ada snack dan kopi.

Kami masih memiliki 3 anak lagi. Pada akhrnya mereka juga akan memiliki jalan hidunya, merangkai masa depan; memiliki keluarga, rumah, dan tentu anak seperti halnya juga kami. Hidup terus berputar. Semoga kami selalu mendapatkan kemudahan dan diberi keselamatan dunia-akhirat oleh Allah SWT.

Hubby adalah nomadic – seorang pengembara, di kala muda. Dua tahun keliling Indonesia, 2 tahun pula keliling 7 negara Asia. Sekarang saja sering ninggalin aku sebulan, seminggu…

Sun. Matahari. Tanpa fajar, hidup jadi tidak bersemangat. Yang ada mendung kelabu. Mari, selalu kita sambut.

Saya sangat beruntung punya istri seperti Tias Tatanka. Selain hobi baca, menulis puisi-prosa, memiliki jiwa kerelawanan untuk Rumah Dunia, juga kreatif. Dia pandai menjahit dan menyulap kain souenir jadi kemeja etnik untuk saya.

Hubby juga merelakan kesempatan melihat fajar karena memilih menemaniku yang sendirian. Oh, so sweet. Beberapa kali kusuruh jalan duluan. Beberapa kali beliau berjalan lebih dulu, tapi ternyata berhenti di atas dan menungguku tiba. Masya Allah, tabarakallah, allahumma baarik ‘alaih. Makasih, hubby.

Saya memiliki paspor pertama kali pada 2012. Saat itu hubi mau mencicil mas kawin keliling dunia. Alhamdulillah, sekarang sudah ke 11 negara. Semoga paspor masih membawa saya ke negara ke 12, dst…

Setelahnya akan plong dan memasuki masa tenang yang sebetulnya tidak tenang karena menyiapkan laporan. Begitulah trek yang harus kami lalui. Ini hanya sebagian kecil jalur yang dilewati dari perjalanan hidup. Sekecil dan sependek apa pun jalur itu tetap saja harus ditempuh dengan saksama dan sungguh-sungguh.

Inkoktober 5 ini tentang binoculars. Tentu tentang bagaimana kita meneropong melihat dunia dan diri sendiri.

Jadi aku berusaha konsisten, salah satu caranya adalah mengisi pikiran dengan zikir. Kupikir, dengan begitu waktuku nggak akan sia-sia. Aku berkarya tanpa melupakan yang telah memberiku ilham. Sebutlah aku naif, tapi demikian caraku mengerjakan sampai drawing selesai.