Matahari terbenam dengan indah, aku dan dua relawan lain, Naufal dan Nipen. bercengkrama dan berbagi pengalaman tentang manis-pahit menjadi relawan Rumah Dunia. Melalui percakapan itu, aku mulai sadar bahwa Rumah Dunia memiliki nama besar. Masyarakat melihat Rumah Dunia adalah poros untuk dunia literasi, maka untuk menjaga nama baik itu, aku harus rajin membaca, menulis, dan diskusi bersama.

Memasuki malam, hawa panas dan gerah tak berhenti aku rasakan. Aku baru sadar bahwa atap kamar Rumah Dunia dibuat dengan triplek, bukan dari genteng. Sehingga hampir setiap malam, kipas angin berputar dengan kencang agar menjadi dingin dan segar. Ini menjadi awal yang sangat unik, aku harus membiasakan diri memakai baju yang menyerap keringat ketika berada di kamar, agar tidak menimbulkan bau atau keringat yang berlebih. Malam pertama yang penuh sejarah, aku bisa merasakan romantika kehidupan Rumah Dunia dengan nyata.

Aku selalu ingat pesan dari guru di pesantren, “Di mana pun kamu berpijak, di situlah kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan”. Ya, aku harus bertanggung jawab dengan diri sendiri, agar rajin menulis dan membaca, sehingga nantinya menghasilkan karya yang berguna untuk bangsa dan negara.



