Hal serupa juga pernah terjadi kala aku meninggalkan rumah untuk kuliah di Ciputat. Kamarku usang tak diisi orang, kasur merah motif garis-garis kotak itu terasa kesepian. Malam pertama saat khendak tidur di asrama kampus, suara nyamuk terdengar kencang di gendang telinga, beberapa kali gigi nyamuk menyerang kaki dan jemari. tak sempat aku menggerutu, pikiranku melesat membayangkan kamar rumah yang nyaman dan tenang ketika melewati malam pertama di Rumah Dunia.

Jam sebelas malam, menjadi kebiasaan tidur yang tak pernah ditinggalkan. Namun sesampainya di asrama kampus, jam tidur melesat lebih malam. Aku bisa tidur hingga jam dua malam, hanya karena susahnya mendapatkan keheningan dan ketenangan. Ruang kamar tidur diisi oleh empat orang, dan kasurnya dua tingkat. Satu orang mendapatkan satu lemari kecil, yang hanya muat untuk pakaian. Sedangkan buku, kita membeli rak buku sebagai alternatif menaruh berbagai buku mata kuliah.

Mengingat kejadian itu semua, seperti sedang bernostalgia, namun di tempat yang berbeda. Siang itu, Minggu 7 Mei 2023, setelah selesai Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan ke 39. Aku segera merapihkan barang bawaan yang aku tinggalkan di motor. Ada dua tas besar yang berisi baju-baju. Segera aku membawa tas itu ke dalam kamar relawan Rumah Dunia, lalu mulai membuka satu persatu apa yang ada di dalamnya. Tak ketinggalan, ada sedikit cemilan sebagai penabur silaturahmi atau obrolan dengan relawan lainnya, aku letakkan kue-kue itu di tengah kamar, agar langsung dilihat dan dimakan bersama oleh relawan.

Waktu Maghrib kian dekat, tubuhku sudah sangat basah oleh keringat, beberapa kali air itu berjatuhan dari atas kepala. Aku pun melangkahkan kaki ke kamar mandi, sembari memikirkan tentang apa yang bisa aku lakukan untuk Rumah Dunia. Ada perasaan senang dan takut, dua pikiran itu beradu dengan keras dalam sanubariku. Aku melihat kamar mandi sedikit aneh, sebab bak penampungan air tidak difungsikan sebagaimana mestinya, namun menggunakan ember besar sebagai wadah untuk menampung air.



