Sekolah formal tidak sepenuhnya mampu mendampingi anak-anak itu, karena murid di sekolah sangat banyak. Tak semua terurus oleh guru, di samping kini pekerjaan dan beban guru sangat berat sekali. Sedikit yang mampu menjadi guru layaknya Bu Muslimah dalam film Laskar Pelangi.
Selebihnya, sekadar menyelesaikan tugas dan kewajiban saja; datang ke sekolah, mengajar, lalu pulang, kemudian keesokannya lagi melakukan rutinitas yang sama.

Sementara, ratusan anak di sekolah punya problem berbeda-beda, menyelesaikannya juga dengan cara berbeda-beda.
Ketika sekolah-sekolah formal yang sebagian juga dipermasalahkan soal komesialisasinya—karena ada biaya ini-itu yang memberatkan sebagian orang tua, tidak akan bisa menghadapi anak-anak didiknya secara sempurna.

Lalu, hadirlah kantong-kantong literasi di luar lembaga pendidikan resmi yang digerakkan oleh sebagian “orang-orang gila” yang mau-maunya meluangkan waktu, tenaga, pikiran, biaya, dan segalanya untuk mendampingi anak-anak dengan problem-problem sosial di atas.
Mereka bergerak secara mandiri membangun rumah baca, ruang baca, taman bacaan, pojok baca, dan segala macam namanya itu untuk membawa anak-anak ke pintu gerbang suksesnya.


