Bukan saja membawa buku, mereka juga mendampingi anak-anak yang di antaranya berasal dari keluarga ekonomi kurang mampu, yatim piatu, anak jalanan dan terlantar, atau anak-anak korban broken home, dan segala bentuk trauma masa lalu, termasuk trauma akibat bencana alam.
Tidak hanya anak-anak, tapi juga melibatkan masyarakat binaan orang dewasa yang tak lagi anak-anak. Mereka memberi penguatan pada kerja-kerja inklusi sosial, menumbuhkan kewirausahaan melalui rumah baca, agar keluarga-keluarga kurang mampu secara ekonomi memiliki pekerjaan tambahan untuk mengepulkan asap dapur di rumah.

Pegiat-pegiat literasi itu hadir di tengah-tengah mereka, bekerja tanpa pamrih, tanpa dukungan pendanaan yang kuat, tapi tetap bertahan untuk cita-cita mulia; meliteratkan anak bangsa, agar di masa depan kehidupan anak-anak itu lebih baik, dengan berbagai cita-cita yang mereka impikan, semisal menjadi guru, dokter, arsitek, pengusaha, tentara, pejabat negara, dan lain sebagainya.
Sudah pasti, tidak semua orang tua mampu secara maksimal mewujudkan cita-cita anak-anak mereka.

Masalahnya banyak, baik karena faktor pendidikan, ekonomi, perselisihan rumah tangga (perceraian), meninggal dunia, ditinggal pergi bekerja ke luar negeri menjadi TKI/TKW, terlibat kasus hukum sehingga terpidana, dan segala persoalan lain yang membuat jarak dan jurang yang dalam antara hubungan orang tua dan anak.


