Berikut ini cerita singkat perjalanan Daru Pamungkas:
Pada 2013, Daru masuk kuliah di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Ia bersama temannya Arif Baehaqi menimba ilmu di bumi Banten.


Berbeda dengan Arif, ia tidak tertarik tinggal di sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Serang. Daru lebih memilih tinggal di kost-kostan mulai dari semester 1 sampai pertengahan semester 2.


Bosan dengan kehidupan kost-kostan, Dari tertarik mendalami dunia keislaman. Di akhir semester 2 ia memutuskan nyantri di Pesantren At-Thabraniyyah yang berlokasi di Benggala, Serang Banten.


Karena perkenalannya dengan Jack Alawi salah satu relawan Rumah Dunia, akhirnya Daru memutuskan bergabung Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23. Ia masih mengenang waktu awal bergabung sering makan rujak mangga bersama relawan lainnya.



Hebatnya, setiap hari Minggu yaitu pelaksanaan kelas menulis, Daru selalu datang pagi, padahal jadwal belajarnya adalah bakda Duhur. “Saya sengaja pengen bantu-bantu relawan nyapu, dan nyabutin rumput,” katanya sambil mengenang masa lalunya.

Hangatnya para relawan yang lain terkadang membuat Daru malas untuk pulang ke pondok, hingga akhirnya Daru ditawari untuk menjadi Relawan Rumah oleh Gol A Gong. Akhirnya, Daru mantap menjadi relawan.


Saat mahasiswa, Daru merasa tidak tertarik ikut organisasi mahasiswa, sebab lingkungannya kurang mendukung. “Kalau masuk organisasi ngeliat dulu lingkungannya kayak gimana sesuai nggak sama gua. Di organisasi nggak ada roll model yang bisa dijadikan panutan,” katanya.


Berbeda saat dirinya masuk Rumah Dunia, ia melihat Gol A Gong merupakan penulis novel jempolan dan Ade Jaya Suryani yang kuliah di Belanda—itu yang membuatnya mantap bergabung menjadi relawan Rumah Dunia.


Dia mengenang perkataan Gol A Gong agar mantap menjadi relawan Rumah Dunia. “Kamu kalau berkegiatan di kampus itu skalanya hanya lingkup kampus, kalau di RD bisa nasional atau bahkan internasional,” kata Daru mengulang perkataan Gol A Gong.


Dari situ Daru makin giat menjadi relawan, setiap kegiatan digelutinya dengan serius bahkan sampai menyapu dan menyambut rumput. Di lain waktu, ia juga tekun belajar menulis sampai akhir tulisannya dimuat di Banten Raya Post.


“Tulisan gua dimuat di Banten Raya, 1-4 esai tiap bulan. Gua seneng banget. Saking miskinnya gua, itu uang 50 ribu dikejar ke Cilegon kantor Banten Raya,” kenang Daru.


Hidup makin keras dijalani oleh Daru usai kakaknya yang kerja di Pertamina sebagai pelatih bola berhenti karena ada masalah. Akhirnya, Daru berpikir keras bagaimana caranya untuk menghidupi dirinya yang juga sedang kuliah. “Dulu gua kebantu sama Jack Alawi, yang dapat beasiswa di kampus. Sering juga diajak makan, terus Mas Gong sering traktir. Suka ketawa bahagia kalau mengenang itu semua,” katanya.

Menjadi Wartawan di Radar Banten
Bermula dari Dinas Perpustakaan Kota Serang menyelenggarakan lomba menulis esai, Daru mengikutinya di tahun 2015. Syukur, Daru meraih juara 2 dan di perlombaan yang sama pada 2016, akhirnya ia menyabet juara 1. Kala itu jurinya adalah Hilal Ahmad yang juga wartawan Radar Banten.

Pada tahun 2018, Daru ditawari menjadi wartawan oleh Hilal. Tawaran itu diambil tanpa menyia-nyiakan kesempatan. Pada waktu itu, Daru belum beres kuliah, untuk skripsi ia mengaku sudah menuntaskannya dengan baik.


Tidak lama, di tahun 2019 dari ditugaskan boleh redaktur pelaksana Radar Banten untuk meliput daerah Kabupaten Serang dan berstatus sebagai wartawan magang. Daru magang dari tahun 2019-2021, lamanya diangkat menjadi karyawan tetap karena Covid-19—yang membuat perusahaan goyang.


Saat menjadi karyawan magang, Daru sangat semangat, dia bisa menulis 4-5 tulisan perhari. Gajinya lebih besar daripada karyawan tetap, “gaji karyawan tetap sama magang gedean gua. Karena gua mah rajin,” jelasnya.


Akhir 2021 Dari mengaku baru diangkat sebagai karyawan tetap di Radar Banten. Ia merasa berterima kasih kepada Gol A Gong karena terbantu oleh ilmu jurnalistik yang telah diberikannya.


Aku merasa penasaran bagaimana Daru bisa membagi waktu menjadi relawan yang juga wartawan. “Beruntung Mas Gong mengijinkan saya waktu itu asal bisa bantu-bantu Rumah Dunia. Pagi nyapu dulu baru liputan. Kadang beres liputan baru bantuin. Walaupun badan agak capek. Nah, di Rumah Dunia suka tiba-tiba diajak rapat. Yang lain mah istirahat, gua rapat. Beres rapat baru bisa istirahat. Ekstra capek,” katanya.

Menulis Novel Purnama di Citarum
Pemuda asal Bekasi ini memang terkenal pekerja keras. Saat dirinya menghabiskan waktu untuk kerja dan menjadi relawan, dia justru mampu membuat novel tentang daerah asalnya, yaitu Citarum.

Menulis novel ini karena ia terbebani secara moral saat tinggal di Rumah Dunia selama 3-4 tahun tetapi belum menghasilkan karya sama sekali. “Panas gue sama Ade Ubaidil dan Rudi Rustiadi yang karyanya sering dimuat di koran. Akhirnya gua nulis naskah kurang lebih waktunya 6 bulan,” katanya.


Proses menulis novel dari naskah sampai cetak terhambat. “Diedit sama Bang Ade, terus waktu itu Bang Salam juga lagi sakit-sakitan abis pulang dari Kalimantan sama Mas Gong,” kata Daru.

“Akhirnya, novel itu gua terbitkan di Gong Publishing. Nggak pede kalau diterbitkan di luar mah. Itulah gue kalau udah punya keinginan selalu harus bisa dicapai,” sambungnya dengan sungguh-sungguh.

Nilai Jadi Relawan Menurut Daru
Menjadi relawan di Rumah Dunia bagi Daru bukan sekadar mendapat makan gratis melainkan banyak pelajaran di antaranya adalah belajar sabar, dan bersikap baik kepada orang lain. “Di dunia kerja itu ilmu kerelawanan sangat terpakai. Mangkanya gua nggak punya musuh,” katanya.


Daru mengenang saat menjadi relawan. Ia selalu kebanjiran kamarnya karena bocor. “Gua masih inget tuh kamar bocor, kehujanan, belum sempat dibenerin karena sibuk kerja. Beda sama Arif yang perfeksionis dalam urusan apapun misalnya kebersihan kamar,” kenangnya.

Pria yang memiliki perawakan tinggi besar ini menceritakan bahwa dia selalu tampil sederhana. Daru tidak terlalu minat mengurusi fashion bahkan redakturnya pernah menegur karena pakainya dekil. “Celana gua cuma punya dua, sepatu satu itupun udah jebol,” katanya.



Daru selalu hidup hemat dan uang gajiannya disimpan untuk modal masa depan. Betul saja, karena ketekunannya menyimpan uang, Daru bisa meminang pujaan hatinya pada awal 2022. Dan sekarang, Daru juga melanjutkan kuliah S2 jurusan komunikasi di Untirta.

Keberhasilannya itu menurutnya karena ia selalu menurut kepada guru.”Intinya jangan ngecewain guru. Gua dulu pernah nggak melaksanakan perintah Mas Gong buat bener. Mas Gong marah ke gua. Nyesel gua akhirnya. Di situ gua nggak mau ngecewain guru lagi,” katanya.


Menurutnya, Gol A Gong kalau menyuruh kita melakukan sesuatu, lakukan saja. Prosesnya lalu. Hasilnya, misalnya jelek atau belum bagus, nggak apa-apa, yang penting kita melaksanakan tugasnya karena itu adalah bentuk latihan. Itulah yang membuatnya menjalankan hidup penuh berkah dan selalu berhasil dalam setiap perjalanan.*


