Cerpen Gol A Gong: Gadis Pemulung Masuk Televisi

Aini baru saja membongkar isi karungnya di halaman belakang rumah, ketika terdengar Latifah berteriak memanggil namanya, “Kak Aiiin!”

Aini bergegas menumpuk botol-botol plastik di antara tumpukan rongsokan lain, yang digundukkan di bawah pohon pisang. Maafkan Kakak, Ipah. Kakak belum sempak menjual botol-botol plastik ini ke Pak Kasman. Menu buka puasa dengan telor dadar hanya ada di dalam khayalan. Aini sendiri menelan air liurnya, membayangkan lezatnya berbuka puasa dengan lauk telor dadar. Plastik biru ditariknya, menutupi rongsokan.

Lukisan Tias Tatanka

“Ada apa, Pah?” kedua alis Aini terangkat, ketika Latifah muncul dengan wajah gembira.

“Ada tamu nyari Kakak!”

“Siapa?”

“Nggak tau!” Latifah membalik dan berlari ke dalam rumah. “Orangnya baik. Cantik-cantik lagi! Bawa oleh-oleh banyak buat kita!” teriaknya gembira.

Aini mencuci kedua tangannya di ember. Membasuh wajahnya. Jari-jari edua tangannya yang basah menyisir rambutnya. Ada tamu membawa oleh-oleh? Siapa mereka? Apa nggak salah alamat? Lalu air di ember itu disiramkan ke kedua kakinya. Bergegas dia masuk ke dalam rumah. Sandal jepitnya tidak dilepas, karena rumahnya yang berdinding anyaman bambu masih beralaskan tanah.

“Assalammualaikum…”

Aini kaget. Dia berdiri mematung.

“Kamu masih puasa, Ain?”

Aini mengangguk.

“Pasti tadi capek lari ‘kan?”

Aini mengangguk malu. Dia melihat Latifa asyik membongkar oleh-oleh dengan perempuan yang tadi menyetir mobil. Dia melihat ada baju baru, sepatu baru, kueh kaleng, dan beberapa susu kaleng.

“Kok, Kakak tahu rumah Ain di sini?”

“Ternyata kamu top banget di kampung ini. Nanya di ujung kampung aja, semua udah pada tau.”

“Iya, kamu top abis!”

“Kakak ini, siapa?”

“Oh, iya. Kakak belum ngenalin, ya!” perempuan cantik itu tertawa. “Nama kakak ‘Rosa’!”

“Panggil ‘Susi’ saja!”

“Kami dari rumah produksi…”

“Ngg.., apa itu?”

“Kami yang suka bikin acara televisi reality show…”

“Kami nggak punya televisi, Kak…,” Aini menunduk.

Rosa bingung, melirik kepada temannya.

Lukisan Tias Tatanka

“Nggak apa-apa,” Susi mengambil alih pembicaraan, ketika melihat Rosa sudah kehabisan cara. “Gini, Ain. Kamu, adikmu, dan ayahmu, mau kami masukkan ke televisi. Nanti kalian tidur di hotel, rumahmu kami bangun lagi biar bagus. Nanti kalian terkenal, karena masuk televisi. Gimana?”

Aini merasa kepalanya membesar, diisi oleh segala macam hal. Dia tidak pernah menonton acara itu. Tapi, di sekolah sering mendengar cerita teman-temannya, bahwa banyak orang miskin yang kayak mendadak setelah masuk televisi. Di dalam hatinya, dia ingin sekali jadi orang kaya. Dia ingin keluar dari kemiskinan. Apakah Allah mengabulkan doa-doanya selama ini? Bukankah puasa adalah bulan tempat dimana kita meminta? Bulan dimana doa-doa kita akan didengar Allah?

“Mau, mau! Ipah mau masuk televisi, Kak!” Latifah berteriak-teriak kegirangan.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

3 Komentar

  1. menentukan unsur intrinsik

    1. unsur intrinsik harus ada di setiap karya fiksi

    2. Cerpennya bagus boleh lah diceritakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==