Aini menangis tiada henti, ketika melihat dirinya, ayahnya, dan Ipah ada di televisi. Setiap gerak-gerik mereka direkam oleh televisi. Kehidupan mereka sebagai orang miskin yang berubah jadi orang kaya mendadak ditampilkan di televisi.
Ayahnya yang penyapu jalanan, dirinya yang menjadi pemulung sepulang sekolah, dan adiknya yang tidak sekolah, tidur di hotel berbintang, makan di restoran mewah, dan belanja pakaian di mal. Uang jutaan rupiah di tangan mereka. Rumah mereka yang jelek tiba-tiba jadi warna-warni. Perabotan mahal dan modern mengisi rumah mereka. Televisi, kulkas, kipas angin, vcd player, dispencer, kipas angin, dan magic jar!

Malam ini Aini sedang duduk di ruang tengah rumahnya. Kini ada sofa menghiasi ruang tengah rumahnya. Latifah dipangku ayahnya. Adiknya kini bisa masuk sekolah di kelas satu. Puluhan orang memenuhi ruang tengah rumahnya. Ada yang duduk di sofa, tapi ada juga yang tidur-tiduran di karpet. Beberapa belas orang berdiri di jendela. Supaya tidak gerah, kipas angin terus dijalankan. Mereka semua sedang menonton televisi, dimana Aini, Latifah dan ayah mereka jadi pemeran utama. Semua orang berdecak kagum. Semua orang dengan rakus menikmati makanan dan minuman.
Semakin malam, tamu-tamu tidak berkurang, tapi terus bertambah. Bahkan ketika tayangan televisi sudah usai, orang-orang belum mau beranjak dari rumah Aini. Sampai Aini tertidur di kursi dan Latifah tertidur di pangkuan ayahnya, semua orang belum mau beranjak.
“Kami biar tidur di sini saja. Sambil ngejaga rumah, Pak Komar. Siapa tahu ada pencuri. Bahaya ‘kan!” kata para tetangga. “Ayo, Pak Komar tidur di kamar saja. Jangan kuatir.”
Pak Komar akhirnya memangku Aini dan Latifah ke dalam kamar. Dia tidak merasa khawatir, karena tetangga-tetangganya menjagai rumahnya. Pak Komar yakin, tetangga-tetanggnya menolong tanpa pamrih. Oh, andai saja istrinya masih hidup. Pasti kebahagiaan ini terasa komplet. Hanya saja Pak Komar harus tahu diri. Tidak ada yang gratis di dunia ini.
Maka keesokan paginya, Pak Komar membeli sarapan yang banyak, rokok berbungkus-bungkus, kopi bergelas-gelas, dan tentu amplop dengan isi uang alakadarnya untuk transportasi mereka pulang. Bukankah rezeki itu harus dibagi-bagi, agar semua orang ikut merasakan kebahagian yang sedang dirasakannya? Begitu suara hati Pak Komar.



menentukan unsur intrinsik
unsur intrinsik harus ada di setiap karya fiksi
Cerpennya bagus boleh lah diceritakan