Kini Aini berangkat ke sekolah dengan perasan lain. Dia tidak lagi berjalan kaki. Tapi bersepeda. Di sepanjang perjalanan ke sekolah, berkali-kali dia dicegat orang-orang. Gadis pemulung itu tiba-tiba merasa aneh. Kenapa kini semua orang mengenalnya? Bahkan Pak Camat, yang tidak pernah dikenalnya, berhenti di tengah jalan hanya untuk bercakap-cakap dengannya. Kemudian Pak Bupati di kotanya. Akibatnya, dia terlambat di sekolah. Tapi, semua orang di sekolahnya menyambutnya bak pahlawan.
Hari itu tidak ada kegiatan belajar. Semua orang bekumpul di lapangan, mengadakan upacara kehormatan bagi Aini. Kepala sekolah dan guru-guru merasa bangga, karena Aini sudah masuk televisi. Sekolah mereka jadi terkenal ke seluruh penjuru Indonesia berkat Aini.

Aini dipanggil maju. Teman-temannya menyaksikan, bagaimana kepala sekolah menyematkan tanda jasa di dadanya.
“Semua orang harus mencontoh Aini. Walaupun miskin, dia tetap bersabar. Sepulang sekolah jadi pemulung, itu sangat mulia. Inilah berkah bulan puasa. Akhirnya, Allah mengabulkan doa-doanya. Kini Aini jadi orang kaya seperti kita. Berkat televisi, hidupnya berubah 360 derajat!” Pak Kepala Sekolah berpidato.
Guru-guru dan teman-teman Aini bertepuk tangan.
Setelah usai, Pak Kepsek berbisik di telinga Aini, “Setelah upacara, kamu harus datang ke ruangan Bapak, ya!”
Aini mengikuti perintah Pak Kepsek. Di ruangan Pak Kepsek berkumpul juga bendahara sekolah. Aini duduk menunduk.
“Aini. Ini ada surat dari sekolah. Berikan pada ayahmu, ya,” kata bendahara sekolah.
Aini bergetar menerima surat iu. Tidak biasanya dia menerima surat dari sekolah. Ada apa, ya? Isi surat ini apa?
Di rumah, Aini memberikan surat itu pada ayahnya.
“Surat apa?” Pak Komar merobek amplop itu.
“Ain nggak ngerti, Pak…”
Tiba-tiba saja ayahnya berteriak kaget, “Dari mana kita harus membayar ini?”

Aini mengambil surat itu. Ternyata isinya, Aini harus membayar tunggakan iuran sekolah selama ini. Juga Aini diharuskan membayar segala macam pungutan sekolah. Yang paling parah, Aini harus membayar uang bangunan sekolah, yang akan ditingkatkan kualitas phisiknya menjadi dua lantai. Masing-masing murid kena beban 3 juta rupiah. Sedangkan Aini mendapat uang dari televisi sebesar 3 juta rupiah.
“Uangnya sudah habis untuk orang-orang kampung. Mereka setiap hari datang ke sini. Meminta makan, rokok, dan sebagainya. Bapak jadi pusing!”
“Kita jual lagi aja barang-barangnya, Pak,” usul Aini.
Pak Komar termenung memandangi segala perabotan yang menyesakan ruangan.
“Aini pingin sekolah. Aini pingin jadi dokter…”
Ayahnya mengangguk pasrah.
“Tapi, boneka Barbie Ipah nggak dijual ‘kan?”
Aini menggeleng dan memeluk adiknya. Dia berencana, setelah sahur, akan keliling komplek mencari barang rongsokan lagi. (*)
* Rumah dunia, Kampung Ciloang, awal Oktober 2005



menentukan unsur intrinsik
unsur intrinsik harus ada di setiap karya fiksi
Cerpennya bagus boleh lah diceritakan