Jika anak-anak minta aku menemani mereka, maka itulah saatnya aku harus jeda dari kegiatan di Rumah Dunia. Caranya dengan memberi tugas kepada anak-anak, dan menunjuk salah satu atau dua untuk jadi penanggung jawab kegiatan hari itu. Tugasnya mengumpulkan lembar kerja teman-temannya dan membereskan alat tulis. Sementara aku sudah sibuk mendampingi anak-anak di rumah.

Anak-anak Rumah Dunia sudah hafal, sore hari jelang maghrib mereka akan bubar sendiri dan menutup pintu gerbang yang saat itu masih terbuat dari kayu.
Malamnya, setelah hubby pulang dan kami punya waktu luang, sekeluarga kami akan menengok Rumah Dunia dan melihat hasil kegiatan anak-anak hari itu. Rutinitas ini berlangsung hingga anak keempat, meski intensitasnya berbeda, karena sudah ada relawan yang membantu keberlangsungan kegiatan.

Sore ini (5/10) aku duduk lagi di antara anak-anak Rumah Dunia seperti sore-sore sebelumnya. Ada yang berbeda dan baru terpikirkan olehku. Kepedulian terhadap murid menjadi berlipat-lipat dibanding dulu.
Apakah karena anak murid yang kuajar ini beberapa adalah anaknya muridku, sehingga levelnya adalah cucu murid? Bukankah sering dibilang kasih sayang ke cucu melebihi ke anak? Ha-ha-ha.
Entahlah. Apa pun itu, kupikir aku menjadi jauh lebih sabar dibanding saat mengajar orang tua mereka.



