Menjadi “Tidak Bodoh” itu Penting

Oleh: Naufal Nabilludin

Saya berhenti scroll ketika postingan Mas Indra Dwi Prasetyo (@indradwiprasetyo) muncul di beranda saya. Ada kalimat yang sangat menyentuh dan membuat saya berpikir, “Menjadi tidak bodoh lebih penting daripada menjadi pintar.”

Menurut Mas Indra, kita seringkali terlalu sibuk mengejar gelar atau pengakuan. Kita belajar untuk ‘menjadi sesuatu’, padahal fungsi paling dasar dari belajar adalah agar kita “tidak bodoh.”

Dari tulisan singkat di IG itu, ada satu kalimat yang saya suka betul, “Menjadi ‘tidak bodoh’ adalah asuransi dari kerugian potensial yang muncul di masa depan.”

Kalimat itu membuat saya merenung: apa betul yang dikatakan oleh Mas Indra?

Kebetulan, ada teman saya yang baru saja bercerita. Tanpa sepengetahuannya, orang tuanya meminjam uang ke leasing dengan nominal yang tidak ia ketahui sebelumnya. Karena harus dilunasi segera, masih ada sisa cicilan 3 juta rupiah yang harus diselesaikan secepat mungkin. 

Pihak leasing kemudian menawarkan pinjaman kembali 3 juta rupiah itu dan akan dicicil lagi selama 6 bulan yang, jika ditotal dengan bunganya, menjadi 5,2 juta rupiah. Bayangkan, 6 bulan bunganya hampir dua kali lipat dari total pinjaman.

Anaknya kaget, dan ia langsung membayar tagihan itu sebelum orang tuanya mengambil pinjaman lagi. Apa yang dilakukan teman saya ini persis seperti yang Mas Indra katakan. Ia menjadi asuransi bagi keluarganya untuk menghindari kerugian di masa depan.

Saya juga jadi berpikir, terutama soal keuangan. Jangankan leasing yang punya izin yang jelas, di luar sana banyak bank keliling yang bunganya jauh lebih mencekik dan membuat orang pelan-pelan terlilit utang. 

Utang ditutup dengan utang. Bukannya berkurang, justru bertambah karena bunganya semakin besar. Saya yakin, banyak kasus semacam ini di sekeliling kita.

Tapi, apakah orang yang meminjam ke leasing atau ke bank keliling itu “bodoh”? Rasanya terlalu menghakimi kalau kita bilang begitu. 

Kadang-kadang, masalahnya terletak pada ketidaktahuan dan akses informasi yang terbatas. Dan ini tidak bisa dikatakan sebagai ketidaktahuan personal; ini lebih jauh dari itu.

Kalau Mas Indra bilang menjadi tidak bodoh adalah asuransi, berarti kita harus membayar preminya. Semakin mahal premi yang kita bayar, semakin banyak yang ditanggung oleh asuransi itu. 

Dengan analogi Mas Indra, semakin banyak kita belajar agar tidak menjadi bodoh, semakin banyak kerugian di masa depan yang bisa diminimalisir. Bukan hanya kerugian personal yang bisa kita cegah, tetapi juga kerugian keluarga dan lingkup yang lebih luas.

Apa yang dikatakan Mas Indra, saya rasa ada benarnya.Belajar bukan tentang menjadi juara, tetapi memastikan kita tidak menjadi korban dari ketidaktahuan itu sendiri.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==