Puisi Gol A Gong ditulis karena dirangsang oleh sesuatu yang ikonik di kota itu. Bisa karena sejarahnya, tokohnya, budayanya, atau perilaku orang-orangnya. Silakan menikmati puisi Telunjuk Pangeran Diponegoro.

TELUNJUK PANGERAN DIPONEGORO
Gol A Gong
Di alun-alun Kota Magelang
Kulihat wajah pemberani yang sudah lama
kukenal di perpustakaan tersenyum kepadaku
telunjukmu bertanya: ke mana Sultan Banten?
Sore ini ketika senja di balik menara masjid Agung
alun-alun kota Magelang ramai menikmati keberaniannmu
jari telunjukmu itu adalah semangat perlawanan
lantang telunjukmu bersuara: Belanda enyah dari Tegalrejo
Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati
sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati
begitulah aku, tertunduk pada bumi Magelang
Sultan Bantenku pernah ada di perempatan jalan
menunggang kuda dengan gagah berani
menyapa kepadaku setiap lampu menyala merah
Kini Sultan Bantenku tak ada lagi
lenyap ditelan kursi panas politisi
sementara kau, Pangeran Diponegoro
telunjuKmu gagah di alun-alun kota
*) Magelang, 14 September 2022



