Rak Buku di TBM Tidak Koheren dengan Tradisi Menulis Pengelolanya

Saya sebagai moderator dalam kegiatan Gerakan Indonesia Membaca bersama Duta Baca Indonesia dan Perpustakaan Nasional RI sangat terkejut ketika Abdul Salam sebagai Presiden Rumah Dunia yang didapuk sebagai narasumbers dalam paparannya mengatakan, “Rak buku di Taman Bacaan Masyarakat ternyata tidak koheren dengan tradisi menulis pengelolanya.”

Gedung Surosowan Rumah Dunia yang dipenuhi 200 peserta pada Kamis 5 Desember 2024 menjadi saksi, bagaimana Abdul Salam menggugat keberadaan TBM, yang ternyata tidak koheren dengan tradisi menulis. Khususnya di Kota Serang dan umumnya di Banten.

“Berarti pengelola TBM yang tidak menulis masih berkutat di fase aktivis literasi,” tegas Abdul Salam. “Sebaiknya mulai sekarang Ketua Forum TBM Banten dan Kota Serang menyiapkan program pelatihan menulis. “Rumah Dunia siap berkolaborasi.” Salam menegaskan. tambahya, “TBM di Banten yang hingga hari ini konsisten menulis, ya Rumah Dunia.”

Toto ST Radik, pendiri Rumah Dunia mengamini. “Kenapa pengelola TBM harus menulis? Karena setiap gagasan di TBM akan tersebar cepat dan luas jika dtuliskan. Tentu lisan dan tulis sangat berbeda jauh. Lisan yang tidak terstruktur ketika dituliskan cara berpikirnya jadi sistematis.”

Sebetulnya hal ini sudah dikupas-tuntas oleh M Iqbal Dawami dalam bukunya yang berjudul Pseudo Literasi; Menyingkap Sisi Lain Dunia Literasi (Maghza Pustaka, 2019). Dawam membagikan pengalaman pahitnya di buku ini, bagaimana perlakuan penerbit dalam hal royalti dan cetak ulang, sesama pegiat literasi yang tidak memiliki sikap solidaritas, dan para pegiat literasi yang sering berkampanye tentang pentingnya membaca tetapi dia sendiri tidak membaca.

Realitas bahwa oragng yang dekat dengan buku tidak koheren dengan tradisi menulis, memang sering saya temukan saat memberi pelatihan. Ya, banyak para guru Bahasa dan Sastra Indonesia, yang tidak gemar membaca apalagi menulis. Begitu juga para penelola TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang hanya senang seminar atau menggelar buku. Jika setahun, dua tahun… berada pada posisi itu, saya memaklumi. Tapi jika sepanjang hayat, berarti dirinya tidak meningkatkan kapasitas dan kualitas hidupnya.

Jadi “pseudo” itu adalah “palsu”. Kamu termasuk ke dalam golongan tersebut? Bagaimana di TBM kamu?

Gol A Gong

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==