Agus memberanikan diri untuk menyatakan perasaan pada Kalis di atas motor deket bunderan UGM sepulanng menonton bioskop. Jawaban Kalis, sama halnya perempuan pada umumnya, disuruhnya Agus menunggu. Kalis meminta waktu untuk berpikir. Tiga minggu kemudian, Kalis menerima dan mereka resmi berpacaran.
“Saya bukan lelaki yang pintar menjaga hubungan. Saya bahkan tak pernah mampu menjaga kelanggengan hubungan dengan perempuan lebih dari enam bulan. Namun Kalis berbeda. Ia perempuan sabar dan telaten. Kami sudah dua tahun menalin hubungan. Saya merasa makin cinta,” kata Agus.

Bab pertama di awali dengan kekonyolan yang dialami Kalis dengan jok motor. Saat akan mengisi bensin di pom bensin, Kalis tidak bisa membuka jok motornya sampai hampir menangis. Sudah diangkat dengan sekuat tenaga tetap tidak terangkat saja, ternyata yang diangkat oleh Kalis jok bagian depan, bukan jok bagian belakang.
Di bab selanjutnya, urusannya bukan lagi dengan jok motor tapi dengan pesawat. Agus heran dengan Kalis, ketika menulis di media atau saat mengisi acara, keenceran otaknya kelihatan sangat wah. Agus sering terkagum. Tapi setelah harus berurusan dengan pesawat entah kenapa, kecerdasannya langsung berubah payah.
Kalis sering mengalami kesalahan dalam membeli tiket. Salah satunya ketika ia akan pergi Jakarta- Solo, tapi yang Kalis beli tiket Jakarta-Jogja. Kesalahnya mengingatkan Agus pada kejadian ketika Kalis akan berangkat ke bandara Adisutjipto untuk terbang ke Jakarta, tapi yang ia beli adalah tiket Jakarta-Jogja.


