Dibagian bab ini, sifat yang dimiliki semua perempuan adalah ‘kecemburuan’. Bagaimana tidak di bagian bab ini, Agus sedang duduk bersama Kalis di bandara, sambil menunggu keberangkatan pesawat Agus ke Bengkulu. Padahal mereka berdua sedang asik mengobrol, akan tetapi mata lelaki yang tidak bisa untuk tidak melirik ketika ada perempuan seksi, pahanya bagus putih mulus. Agus melirik kearah perempuan seksi itu. Tanduk yang berada di dalam kepala Kalis muncul, sambil mengucapkan “Iya ya, Mas. Mbaknya seksi. Pahanya bagus, putih mulus”. Tapi Agus malah ngakak ga karuan.

Kebiasaan laki-laki senang sekali membuat perempuannya cemburu. Hal sepele sebenarnya, hanya melirik tidak sampai disapa. Mau bagimana lagi, namanya perempuan. Sensitif. Ditambah obrolan asik mereka waktu itu terputus setelah perempuan seksi lewat.
Bagian bab berjudul ‘Daster’. Agus menemani Kalis untuk membeli daster, setelah sudah berpindah-pindah lapak tidak ketemu saja daster yang Kalis inginkan. Karena Agus tidak sabar ia menanyakan,

“Bagaimana sudah dapat?”
“Belum Mas, saya mau cari yang feminim”, jawab Kalis.
Agus mulai memahami jawabannya. Walau menurut akal goblok Agus, yang namanya daster itu ya sudah pasti feminim.


