Tapi, karena kami ingin sekalian jalan-jalan sore di Kota Cilegon. Saya dan “Si Dia” sengaja mencari tempat makan yang agak jauh dengan berjalan kaki sambil menikmati suasana sore Kota Cilegon. Ya, saya semaki yakin dengan pendapat saya, bahwa Kota Cilegon memiliki taman lebih banyak dibandingkan dengan Kota Serang.
Kami menelusuri jalan Letjen R Suprapto ke arah Jalan Raya Anyer. Ada banyak tempat makan di pinggiran jalan, tapi kami tertarik makan di resto Ngalir, makan nasi uduk yang serba dadakan.

Awalnya saya ragu resto ini sudah buka atau belum, pasalnya belum ada lauk-pauk yang berjajar di etalase.
“Pak, nasi uduknya udah ada?” kata saya kepada bapak yang sedang menggoreng tempe.
“Ada, mau pake telor atau ayam” Kata Bapaknya memberikan pilihan.
“Telor dadar aja Pak dua, sama gorengan tempenya,” kata saya.

Ini pengalaman pertama saya makan nasi uduk yang lauknya dimasak dadakan. Nasi uduk memang lebih nikmat disantap dengan lauk yang masih hangat.
Sekitar 10 menit kami menunggu, pesanan datang. Dua nasi uduk hangat yang ditaburi bawang goreng ditambah oreg tempe. Lauknya 2 telor dadar dan gorengan tempe yang baru di angkat dari penggorengan. Tidak lupa juga sambal dan kerupuknya.

Selain nasi uduk, Resto Ngalir juga menjual Ketoprak, tahu isi, tempe mendoan dan aneka gorengan yang digoreng dadakan. Minumannya juga beragam, mulai dari air putih, es teh manis, kopi, susu, dan lain-lain.

Harganya pun terjangkau, nasi uduk dengan telor dadar hanya 9 ribu Rupiah. Jadi kami hanya membayar 21 ribu untuk 2 porsi nasi uduk dengan telor dadar ditambah 2 gorengan tempe.



Share with US @suara_fspmi_cilegon