Setiap malam Minggu komunitas seperti geng-geng anak muda nongkrong saling silaturahmi di sini. Novel saya yang berjudul Balada Si Roy juga menjadikan Royal sebagai setting lokasi penting.

Sekarang Royal tidak lagi menarik. Hanya sebatas jalan tempat orang berjualan. Pagi hari sepi, hanya ada satu-dua warung makan nasi uduk dan kupat tahu, yang jika pukul 10.00 tutup. Satu-dua becak mash diparkir. Jika sore, berejejal pedagang kaki lima, sama sekali tidak ada cita rasa seninya.

Kadang jika sedang berkunjung ke sebuah kota, muncul rasa iri di dada. Wisata Kota seperti di Kota Tegal, di Yogya apalagi dengan Malioboro, di Tulung Agung yang melarang angkutan kota masuk ke pusat kota, di Bukit Tinggi, di Banjarasin, ah…! Selalu ada seruas jalan yang instagramable, sangat estetik. Selalu menyenangkan dengan wisata kulinernya di tengah kota.

Di tahun 2023 ini, Taman Sari – ujung timur Royal, yang tadinya penuh sesak hanya untuk jual-beli, kini mulai berbenah walaupun belum bisa dijadikan destinasi wisata kota. Pasar Lama oleh Wahyu Nurjamil – Kepala Dinas Perindutrian dan Perdagangan, sekarang ditata jadi pusat kuliner. Upaya yang baik. Kita tahu Pasar Lama itu seperti “slum area”, kumuh, dan tidak pantas sebagai ibu kota Provinsi Banten. Jadi wajar saja kalau warga Kota Serang masuk dalam kategori tingkat kebahagiaannya yang rendah.



