Kuantitas bagiku bukan faktor utama. Tahun 2002 aku pernah menerima 400 orang anak dan remaja yang mengisi data anggota Rumah Dunia. Apakah aku dengan gegap gempita merasa bangga dengan pencapaian itu? Tidak, ya, brow. Aku saat itu bilang ke hubby, bahwa aku memperkirakan hanya akan menerima 5% dari jumlah pendaftar. Seleksi alam bagiku adalah mutlak, pasti berlaku dan harus dihadapi.

Maka, saat itu aku dan hubby terus saja bergerak berlomba dengan waktu, hingga akhir tahun 2002 itu pengunjung yang nyaris tetap hadir sekitar 80-an anak dan remaja. Begitulah alam menyeleksi, siapa yang cocok dengan sebuah lingkungan dialah yang bertahan.

Jumlah 80-an orang yang tersisa dan konsisten beberapa bulan ke depannya itu cukup melegakan hatiku karena mayoritas mereka sudah bisa memilih kegiatan yang disukai. Apakah mengarang, berpuisi, menggambar, atau teater. Buatku mereka sudah berhasil melampau 95% teman lainnya yang lepas atau melepaskan diri dari jaring seleksi alam.

Lalu apakah 80-an orang ini konsisten hingga sekarang? Ya enggak, dong. Alam menyeleksi lagi, lagi, dan lagi. Insyaallah nanti kutuliskan lagi mengenai hal ini. Apakah ini menyedihkan? Ada sedihnya, ada enggaknya, meski bukan berarti senang. 😂

Aku selalu percaya bahwa jika kita berusaha menjadi orang baik dengan melakukan kebaikan, energi yang berpusar akan menjadi tenaga menyehatkan. Begitu pun sebaliknya. Maka, jangan pernah berhenti berbuat kebaikan, sekalipun tak ada yang menghargainya. ❤️
Sehat-sehat semuanya! ❤️


