Di pinggir lapangan ada spanduk bertuliskan: Walikota Cup. Lomba Lari Agar Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
Pak Walikota didampingi Papa Glen sudah berdiri di pinggir lapangan. Ajudan dan seorang polisi berdiri di belakang Pak Walikota.

“Silakan, Pak. Memberi semangat dulu kepada anak-anak,” Papa Glen menyodorkan mikrofon kepada walikota.
Pak Walikota menerima mikrofon dan langsung berpidato. “Anak-anakku, apa kabar?”
“Baik!” dijawab serempak oleh anak-anak yang siap adu cepat lari 100 meter.
Sarip yang berdiri di lintasan ketujuh melambaikan tangannya ke tribun. Di sana ada ibunya dan mama Glen, yang juga membalas lambaian tangannya. Juga ada Glen, Anisa, Kak Roni, dan teman-teman di sekolahnya. Mereka bersorak-sorai memberi semangat.
Sarip teringat ayahnya yang setiap sore melatihnya berlari di persawahan. Ayah Sarip mengendarai motor dan Sarip harus mengejarnya. Jika Sarip hampir berhasil menyusul, ayahnya mempercepat laju motornya.

Pak Walikota berpidato lagi, “Anak-anakku. Sekarang kalian masuk final. Pasti ada yang juara dan ada yang kalah. Yang juara, jangan sombong. Yang kalah, bukan berarti lemah, ya. Tapi ingat, anak-anakku, yang penting dalam hidup ini adalah terus berlatih untuk mewujudkan cita-citamu….”
Para penonton bertepuk tangan.
“Pesan Bapak kepada kalian, anak-anakku. Walaupun tubuh kita sehat, tubuh kita kuat, tapi kalau tidak suka membaca buku, nanti kita seperti robot. Tubuh berotot, tapi isi otaknya kosong. Maka, mulai sekarang, berolahraga itu membuat tubuh sehat, membaca buku itu membuat kita kuat…”

Beberapa wartawan membidikkan kameranya ke arah Pak Walikota. Penonton semakin ramai. Kemudian kamera diarahkan kepada delapan anak yang berkonsentasi untuk bisa sampai ke garis finish lebih dulu, jadi juara pertama.
Sarip tampak gugup. Tujuh lawannya memandangnya remeh. Ayah Sarip tiba-tiba muncul dari balik debu lintasan lari di depannya. Ayah Sarip tersenyum. Tidak seorang pun yang bisa melihatnya.
“Sarip,” terdengar suara ayahnya. “Tenang. Fokus. Lihat ke depan.”
Sarip mengikuti perintah ayahnya. Dia focus menatap ke depan. Terbayang ada sepatu baru di garis finish untuknya.

Bendera start dikibarkan Pak Walikota yang didampingi Papa Glen. Delapan anak berlomba. Sarip awalnya kalah start. Anisa dan Glen berteriak-teriak di tribun. Mereka memberi semangat agar Sarip juara.
Sarip mengejar dua pelari yang unggul di depannya. Terlihat lagi ada sepatu baru buat dirinya di garis finish.

Papa Glen berdiri menanti Sarip di garis finish bersama guru olahraga lainnya. Mereka mendampingi anak-anaknya yang masuk final. Mereka memencet stop watch dan melompat kegirangan.
“Juara! Kamu juara, Sarip!” Papa Glen berlari dan mengangkat tubuh Sarip tiggi-tinggi. Guru olahraga lainnya juga bersorak senang walaupun anak didiknya kalah.
Sarip memeluk papa Glen yang sudah merawat dan melatihnya. Di tribun stadion Anisa, Glen, Kak Roni ikut bersorak. Mama Glen dan Bik Iyah berpelukan.
Sarip berdii di podium nomor 1. Dua pelari lainnya di nomor 2 dan 3. Walikota memberi Sarip hadiah piala, sepatu baru, dan uang Rp. 5 juta.

Setelah pemberian hadiah selesai, Sarip berlari ke tribun. Dia bersalaman dengan Glen, Anisa, Kak Roni dan teman-temannya. Dia menyerahkan piala kepada Glen sedangkan sepatu baru dipamerkan kepada semua.
Sarip memeluk ibunya, “Terima kasih, Bapak. Semoga Bapak bahagia di surga,” suaranya pelan.
Bik Iyah memeluk Sarip, buah hatinya dengan bahagia. Air mata seorang ibu jatuh ke pipinya.
***
*) Bima, Sumbawa, 7 Maret 2022.


REDAKSI: Silakan kirimkan cerpen Anda, berbagai jenis. Cerpen anak, absurd, surealis, realis-mejis, relijius alias islami. Bebas. Panjang cerpen 500 – 1000 kata. Usahakan 1 peristiwa, 1 lokasi, dan endingnya diplintir atau plot twist. Ada honorarium Rp. 100 ribu support dari Honda dan Ayam Geprek Dewek.


mantaps surantaps dan menginspirasi