Tamu datang tak diundang malah mengundang teman-temannya. Dia tidak mau pergi tapi balik menguasai rumahnya. Itulah Israel.
Puisi Gol A Gong: Gaza, Rumahku!

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Tamu datang tak diundang malah mengundang teman-temannya. Dia tidak mau pergi tapi balik menguasai rumahnya. Itulah Israel.

Banten dalam puisi, Banten dalam pikiran kita, kapan bisa bangkit dalam keterpurukan?

Jika aku gelisah, maka kutulis puisi. Leat kata-katalah aku melakukan perlawanan.

Puisi jangan hanya dinikmati oleh penulisnya, tapi juga pembacanya. Saya sedang belajar ke arah itu.

Segeralah teguk kopimu itu sebelum penguasa malam merebutnya.

Setiap musim kemarau,kita sering memanggil-manggil kodok agar hujan turun.

Pohon, kita sekarang butuh pohon. Bumi makin panas. Bacalah puisiku ini: DI BAWAH POHONPuisi Gol A Gong Di bawah pohon datang masa lalukepadaku yang menikmati …

Punyakah kamu rumah? Rumah yang sebenar-benarnya? Rumah yang membuatmu bahagia setelah lelah seharian?

Bumi makin panas. Pohon-pohon yang rimbun ditebangi berganti tembok beton dan lampu neon.

Sebelum Banten, kiyai, jawara, dan santri kental sebagai pengusaha. Setelah provinsi pada 2000, mereka masuk ke politik dan mendominasi.

Asing terhadap kawan kita yang tiba-tiba jadi aneh dan selalu ingin menang sendiri. Kota yang kemudian merangsek ke ruang pribadi kita. Atas nama demokrasi.

Gol A Gong akan bertanya ini-itu kepada orang-orang. Seperti ketika di Magelang, dia tertarik dengan patung Pangeran Diponegoro yang ikonik kemudian jadilah puisi Telunjuk Pangeran Diponegoro.

Puisi Gol A Gong: Aku Ingin Pulang

Puisi Gol A Gong: Aku Ingin Melupakanmu

Puisi Gol A Gong: Mengalah Kepada Semut

Puisi Gol A Gong: Pelangi Muncul Ketika Hujan Reda

Puisi Gol A Gong: Tadi Malam