Arini tersenyum samar. Rasanya seperti menemukan kembali seseorang yang hilang di tengah badai hidup. Namun, di balik keharuan itu, ada hawa dingin yang perlahan merambat naik ke belakang tengkuknya.
Fiksi Mini: Lintang Karya Adina Mardhatillah

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Arini tersenyum samar. Rasanya seperti menemukan kembali seseorang yang hilang di tengah badai hidup. Namun, di balik keharuan itu, ada hawa dingin yang perlahan merambat naik ke belakang tengkuknya.

Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 21/II/25 Mei – 1 Juni 2025 tentang “Pada Setiap Jejak yang Tertinggal” karya Alex Karci Kurniawan – Kolumnis Asia Times (Hong Kong) dan Daily California (Amerika Serikat). Dia tinggal di Pekanbaru. Puisi-puisi ini lahir dari pengamatan, perbincangan, dan juga bayangan saya sendiri ketika nanti saya juga menjadi tua dan sepuh. Tentang ruang-ruang yang mulai kosong, waktu yang terasa lambat, dan ingatan yang semakin banyak menumpuk di dalam laci kepala. Tapi juga tentang harapan kecil: bahwa akan selalu ada seseorang yang sudi duduk dan mendengarkan.

Puisi-puisi ini bukan tentang akhir yang meledak, melainkan retak-retak kecil yang perlahan membentuk ruang untuk mengenali diri. Luruh adalah kisah mereka yang masih belajar berdamai, dengan masa lalu, dengan kecewa, dengan dirinya sendiri. Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 20/II/18 Mei – 25 Mei 2025 tentang “Luruh” karya Verra Okti – penyair asal Tegal.

Barangkali ini adalah kisah yang akan ditulis seseorang mengenai aku si penulis tidak berbakat. Yang dengan percaya diri mengikutsertakan dua nyawa untuk hidup dari tulisan-tulisannya yang tidak laku. Yang menyebabkan istrinya harus turut serta mencari nafkah serta anaknya tidak lagi bisa bermain seperti yang seharusnya.

Sudah Rabu lagi, 14 Mei 2025. Waktunya Puisi Esai Gen Z! Minggu lalu tentang Aceh, mengenal Undang-Undang Daerah, Qanun Nomor 6 Tahun 2014. Sekarang ke Serang Banten, Edisi 18/I/14 Mei – 21 Mei 2025 tentang seoran mperempuan yang dimuilasi kekasihnya dengan judul “Raut Muka Bahagia, Terkulai Hampa” kara MN Fazri – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Sejarah Peradaban Islam.

Puisi-puisi ini lahir dari potongan masa lalu saya dan dari cerita-cerita orang-orang terdekat saya: adik, teman, atau tetangga saya. Kata Imam Ghazali, yang paling jauh itu bukan matahrai atau bulan, tapi masa lalu. Kita tidak mungkin bisa kembali. Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 19/II/11 Mei – 18 Mei 2025 tentang “Potongan Masa Lalu” karya karya Mars – seorang ibu rumah tangga yang lahir di Madiun tapi kini tinggal di DKI. Seduh kopimu dan nikmati puisi-puisinya.

Jendela ketika malam kita tutup. Begitu pagi tiba, masihkah kita membukanya? Masihkah kita melihat dunia di luar rumah? Masihkah sama? Mari kita selalu berdoa agar masih diberi kesempatan membuka jendela di pagi hari.

Sebuah jalan setapak yang membentang dari kegelapan fajar menuju sebuah rumah kecil di pinggir sungai. Jalan itu tampak seperti mengambang di antara dua dimensi: satu sisi dalam warna biru keunguan fajar, sisi lain disinari jingga senja.

Lima sajak dalam rangkaian “Warisan Bapakku Ibuku” ini adalah sebuah persembahan bagi mereka yang telah meninggalkan jejak kasih, doa, dan kebijaksanaan dalam hidup kita. Sajak-sajak ini tidak sekadar menyusun kata-kata, tetapi menjadi perjalanan batin yang menggali makna dari setiap warisan
yang tak terlihat, tetapi begitu terasa.
Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 17/II/27 April – 4 Mei 2025 tentang “Warisan Bapakku Ibuku” Karya Abdul Wachid B.S.

Sudah hari Rabu lagi, saatnya Puisi Esai Genj Z beraksi. Waktu terus berkejaran dengan nafas kita yang memburu. Sekarang sudah April di minggu ketiga. Puisi Esai Gen Z Edisi 15/I/16 April 2025 hadir dengan “Tangan Kotor di Balik Jabatan” karya Dhea Anggriyani – lulusan Politeknik Negeri Indramayu 2023. Rubrik ini untuk Gen Z. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang.

Puisi “Kutanam Matahari di Rumah Kita” ini ingin menyampaikan bahwa dalam kondisi suram sekalipun, harapan harus diciptakan, bukan sekadar ditunggu. Kita harus berperan aktif untuk menghidupkan rumah, kota, dan masa depan kita. Tak peduli sesuram apa masa lalu, menanam matahari berarti memberi cahaya bagi generasi selanjutnya.

Tema utama dalam puisi ini adalah kehilangan, penantian, dan kerinduan yang tak kunjung usai. Puisi ini menggambarkan perasaan seseorang yang menunggu sesuatu (atau seseorang) yang sangat dinantikan, namun akhirnya tak pernah datang, justru menghilang bersama waktu.

Puisi ini menggambarkan kerinduan, kehilangan, dan pencarian harapan dalam ruang yang suram. Ada rasa terjebak di sebuah kota tanpa matahari—tanpa cahaya atau kehangatan.

Gol A Gong memakai diksi sederhana, tapi sarat makna. Simbol-simbol seperti “pemakaman”, “hand phone”, dan “akte kelahiran” bukan hanya benda, tapi representasi keterasingan, modernitas yang dingin, dan identitas yang terenggut.

Puisi “SEORANG IBU MENGAJARI ANAKNYA MENCURI” karya Gol A Gong ini pendek tapi sangat kuat dan simbolik. Secara tematik, puisinya menyentil realitas sosial tentang bagaimana nilai-nilai ditanamkan—bukan lewat kata-kata, tapi lewat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan larik-larik sederhana, Gol A Gong berhasil menyuguhkan kritik mendalam:
Generasi tak hanya dibentuk oleh apa yang dikatakan, tetapi oleh apa yang diperlihatkan.

Puisi Gadis Kecil karya Gol A Gong ini pendek, tapi menyimpan makna yang dalam dan atmosfer yang kuat. Suasana hujan, lampu merah, dan seorang gadis kecil yang kedinginan — semua itu membangun citra tentang kehidupan jalanan yang keras, penuh ketidakpedulian, dan getir.

Puisi “MENCARI PELANGI” karya Gol A Gong adalah sebuah refleksi yang penuh perasaan—dalam, sederhana, tapi meninggalkan kesan kuat. Di balik bait-baitnya, tersimpan harapan, kekhawatiran, dan cinta dari seorang ayah (atau figur orang tua) untuk anak-anaknya, generasi penerus.