Menampilkan: 35 - 51 dari 246 HASIL

Puisi Minggu: Pada Setiap Jejak yang Tertinggal Karya Alex Karci Kurniawan

Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 21/II/25 Mei – 1 Juni 2025 tentang “Pada Setiap Jejak yang Tertinggal” karya Alex Karci Kurniawan – Kolumnis Asia Times (Hong Kong) dan Daily California (Amerika Serikat). Dia tinggal di Pekanbaru. Puisi-puisi ini lahir dari pengamatan, perbincangan, dan juga bayangan saya sendiri ketika nanti saya juga menjadi tua dan sepuh. Tentang ruang-ruang yang mulai kosong, waktu yang terasa lambat, dan ingatan yang semakin banyak menumpuk di dalam laci kepala. Tapi juga tentang harapan kecil: bahwa akan selalu ada seseorang yang sudi duduk dan mendengarkan.

Puisi Minggu: Luruh Karya Verra Okti

Puisi-puisi ini bukan tentang akhir yang meledak, melainkan retak-retak kecil yang perlahan membentuk ruang untuk mengenali diri. Luruh adalah kisah mereka yang masih belajar berdamai, dengan masa lalu, dengan kecewa, dengan dirinya sendiri. Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 20/II/18 Mei – 25 Mei 2025 tentang “Luruh” karya Verra Okti – penyair asal Tegal.

Puisi Esai Gen Z: Raut Muka Bahagia, Terkulai Hampa Karya MN Fazri

Sudah Rabu lagi, 14 Mei 2025. Waktunya Puisi Esai Gen Z! Minggu lalu tentang Aceh, mengenal Undang-Undang Daerah, Qanun Nomor 6 Tahun 2014. Sekarang ke Serang Banten, Edisi 18/I/14 Mei – 21 Mei 2025 tentang seoran mperempuan yang dimuilasi kekasihnya dengan judul “Raut Muka Bahagia, Terkulai Hampa” kara MN Fazri – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Sejarah Peradaban Islam.

Puisi Minggu: Potongan Masa Lalu Karya Mars

Puisi-puisi ini lahir dari potongan masa lalu saya dan dari cerita-cerita orang-orang terdekat saya: adik, teman, atau tetangga saya. Kata Imam Ghazali, yang paling jauh itu bukan matahrai atau bulan, tapi masa lalu. Kita tidak mungkin bisa kembali. Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 19/II/11 Mei – 18 Mei 2025 tentang “Potongan Masa Lalu” karya karya Mars – seorang ibu rumah tangga yang lahir di Madiun tapi kini tinggal di DKI. Seduh kopimu dan nikmati puisi-puisinya.

Puisi Minggu: Warisan Bapakku Ibuku Karya Abdul Wachid B.S.

Lima sajak dalam rangkaian “Warisan Bapakku Ibuku” ini adalah sebuah persembahan bagi mereka yang telah meninggalkan jejak kasih, doa, dan kebijaksanaan dalam hidup kita. Sajak-sajak ini tidak sekadar menyusun kata-kata, tetapi menjadi perjalanan batin yang menggali makna dari setiap warisan
yang tak terlihat, tetapi begitu terasa.
Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 17/II/27 April – 4 Mei 2025 tentang “Warisan Bapakku Ibuku” Karya Abdul Wachid B.S.

Puisi Esai Gen Z: Tangan Kotor di Balik Jabatan

Sudah hari Rabu lagi, saatnya Puisi Esai Genj Z beraksi. Waktu terus berkejaran dengan nafas kita yang memburu. Sekarang sudah April di minggu ketiga. Puisi Esai Gen Z Edisi 15/I/16 April 2025 hadir dengan “Tangan Kotor di Balik Jabatan” karya Dhea Anggriyani – lulusan Politeknik Negeri Indramayu 2023. Rubrik ini untuk Gen Z. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang.

Ibu Anak dalam Puisi

Puisi “SEORANG IBU MENGAJARI ANAKNYA MENCURI” karya Gol A Gong ini pendek tapi sangat kuat dan simbolik. Secara tematik, puisinya menyentil realitas sosial tentang bagaimana nilai-nilai ditanamkan—bukan lewat kata-kata, tapi lewat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan larik-larik sederhana, Gol A Gong berhasil menyuguhkan kritik mendalam:
Generasi tak hanya dibentuk oleh apa yang dikatakan, tetapi oleh apa yang diperlihatkan.

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==