Saya percaya bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Bahkan alam sekitar kita yang terlihat diam saja, sebenarnya sedang menuliskan pesan-pesan bijaksana. Tentang kehilangan, …
Puisi Minggu: Bahasa Alam Semesta Karya Fadhli Amir

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Saya percaya bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Bahkan alam sekitar kita yang terlihat diam saja, sebenarnya sedang menuliskan pesan-pesan bijaksana. Tentang kehilangan, …

Kotaku kota lama, musnah dilindas peradaban. Kadang kita lupa menghargai kenangan, padahal itulah yang membuat kita tumbuh dan bermimpi. Nikmati Puisi Minggu: Tentang Kota-Kota Karya Gol A Gong Edisi 42/II/26 Oktober – 2 November 2025. Ayo, seduh dulu kopimu. Masihkah sama rasanya?

Puisi Minggu: Mantra Kursi karya Gol A Gong, edisi 38/II/28 September – 5 Oktober 2025. Tak ada meritokrasi. Orang-orang cakap yang memiliki kapasitas dan kompetensi tak mendapatkan kesempatan untuk berjuang di kursi dewan. Mereka tak memiliki amunisi untuk mengongkosi kampanye. Akhirnya mulut-mulut bau penuh janji palsu menebar pesona demi kursi.

Kak Sinta membuka warung kecil-kecilan tak terlalu jauh dari bengkel Ramses – suaminya. Nia istriku sering membantunya, sekedar menemani berbelanja atau menemani di warung saat senggang. Terkadang Kak Sinta membawakan sedikit makanan saat Nia kembali ke rumah.

Bunga-bunga yang sedang memperjuangkan nasib rakyat kecil, semoga terus menyebarkan aroma wangi. Tetaplah di jalanmu, wahai penerus bangsa. Nasib Ibu pertiwi berada di tangan kalian. Nikmati Puisi Minggu edisi 36/II/14 – 21 September 2025: Setelah Demo karya Tias Tatanka. Semoga bumi pertiwi bangkit dan kembali jaya.

Dunia sudah absurd. Orang yang kita sayangi tiba-tiba saja jadi kejam. Seperti di Puisi Esai Gen Z Edisi 36/I/10 – 17 September 2025: Mati di Tangan Kekasih Karya Rofiatul Windariana. Kopi tidak lagi pahit, tapi bau amis darah.

Mari merenung lewat Puisi Minggu edisi 35/II/7 – 14 September 2025: Kembali Karya Heni Hendrayani. Kita Kembali pada sesuatu yang teramat dekat, Tuhan ! Kembali bertandang menemui-Nya meski mungkin ruku kita tidak sempurna, sujud kita tidak juga sempurna. Jangan lupa, seduh kopimu.

Hutanku hutanmu. Mari kita jaga. Jangan digunduli. Jangan dibakar. Nikmati Puisi Minggu edisi 33/II/24 Agustus – 31 Agustus 2025: Tentang Hutan karya Gol A Gong. Jangan lupa, seduh kopimu.

Ibu tiri kejam, itu seperti mitos. Kini ayah tiri kejam, itu nyata ada. Pagar makan tanaman, itulah yang dilakukan ayah tiri terhadap putri tirinya. Puisi Esai Gen Z : Lima Malam, Neraka Bertirai Renda Karya Deni Friska Yulianti Edisi 32/I/13 – 20 Agustus 2025 mengisahkan itu. Pesannya: jagalah baik-baik anak perempuanmu.

Saya membuka ritual ini dengan membacai puisi-puisi dari koleksi buku-buku kumpulan puisi dan klipingan puisi yang saya punya. Juga mempelajari apa-apa yang bisa saya pelajari sendiri dan mengulang dan berusaha mengingat kembali apa-apa yang pernah saya dapatkan selama mengikuti Majelis Puisi Rumah Dunia yang ditutori Toto ST Radik pada 2012 lalu. Nikmati Puisi Minggu edisi 30/II/3 Agustus – 10 Agustus 2025: Ritual Menulis Puisi Karya El Rui. Jangan lupa, seduh kopimu.

Kisah-kisah teladan para utusan Tuhan begitu berharga bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini sebagai pedoman mengarungi lautan hidup, jembatan hidup, sampai kepada kematian dan kehidupan setelahnya. Nikmati Puisi Minggu edisi 28/II/20 Juli – 27 Juli 2025: Kisah Para Utusan Tuhan Karya Narudin Pituin. Jangan lupa, seduh kopimu.

Awal tahun 2025 menjadi momen mengejutkan dan berduka bagi saya. Sebagai anak, saya belum pernah merasakan kehilangan yang begitu lama. Kehilangan sosok yang dihormati, dicintai, …

Suamiku melihat itu dengan raut yang sulit kuartikan. Mungkin dia malu, mungkin juga lega. Tapi aku tidak peduli. Yang penting, kami bisa tetap makan dan Hisyam tetap sekolah.

Mari kita cari kebenaran itu di Puisi Minggu Edisi 26/II/15 Juni – 6 Juli 2025. Gol A Gong sudah mengabarkan, bahwa tak ada lagi kebenaran. Ah, kita nikmati saja kopinya sambil meresapi setiap kata puisinya!

Setelah kalimat terakhir keluar dari mulutku, Siska langsung pergi dengan senyum kepadaku sebagai oleh-olehnya. Ah, bodohnya aku. Kenapa hanya itu saja yang terucap. Entah kenapa ada aura mistik jika aku berhadapan dengannya. Tapi di sisi lain aku merasa bahagia. Suatu kemajuan aku dapat memanggil namanya secara langsung. Biasanya aku hanya memanggilnya dari kejauhan saat aku hendak terlelap.

Perempuan perkasa itu – Cut Nyak Dien, berjuang mengusir Belanda dari tanah Aceh. Kali ini Puisi Esai Gen Z Edisi 24/I/18 Juni – 25 Juni 2025 yang berjudul “Kalung Cut Nyak Berkilau di Kegelapan” Karya Habibaturrohmah – mahasiswi IAIN Sunan Kudus juga Duta Puisi Esai Jawa Tengah, mengajak kita untuk mengenang perjuangannya.

Mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 22/II/1 Juni – 8 Juni 2025 tentang Pernikahan Karya Irzi. Cinta di usia pernikahan ke-1, ke-3, ke-19,
ke-23, sampai ke-25 itu kayak varian rasa keripik pedas: kelihatannya sama, tapi tiap gigitan
rasanya beda. Kadang pedes banget, kadang hambar, kadang malah renyah di waktu yang tak
terduga. Puisi-puisi ini bukan soal romantisme sinematik ala film festival, tapi lebih soal
siapa yang pertama kali nemuin remote TV, siapa yang rela masak meski abis berantem, dan
siapa yang inget ganti air galon sebelum ditegur. Selamat menikmati.