Di film BSR saya sendirian. Tantangan terbesarnya sama: bahasa Sunda dan Jawa Banten jarang ditemui di sinema Indonesia. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk “menyederhanakan” dan merumuskan formulanya agar mudah diterima oleh pemain.
Beruntungnya, kawan-kawan dari Rumah Dunia dan BJS membantu dan mendukung saya untuk terus berjalan maju, terutama dorongan dari guru sekaligus penulis novel Balada Si Roy, mas @golagong.

Setelah penantian yang panjang, terlebih untuk belio, “kutukan” yang menyertai BSR akhirnya luruh dan tokoh-tokoh fiksi dalam bukunya bakal hidup dan membentuk dunianya sendiri di bioskop seluruh Indonesia dan bisa disaksikan oleh banyak orang.

Terima kasih dan selamat Mas @fajarnugrs, Mbak @susantidewi @idnpictures atas filmnya. Ini akan menjadi tahunnya Roy!

Serang akan kami taklukkan!! 🔥🔥🔥

