Jangan lupa, seduh kopinya. Duduk yang manis di sore hari sambil menikmati puisinya. Bacalah:

TEH SUSU GANGGA
Sore pengap di sungai Gangga
kita duduk di anak tangga para dewa
menonton warga India mandi bunga
basah hati air suci dewa Shiwa
para wisatawan berpesta pora
menerbangkan daun menuju sorga
kita sedang menuju sebuah rahasia
“Tak ada pahit kopi di sini,
karena India sudah sepahit kopi,“
begitu yang kubaca di kitab suci.
Kita berjalan menikmati sejarah
anak tanpa bapak menawarkan teh susu
di cangkir tanah liat sepanjang labirin
ibunya menadahkan tangan di tengah kota
kita sedang menemukan kehidupan
“Anak-anak kita tinggalkan di rumah.
Menderita di negeri kita yang koyak-moyak,”
Kita menunggu fatamorgana
mendayung sampan di sungai Gangga
teh susu kusebar di permukaan
berharap ikan-ikan meminumnya
: aku rindu kopi pahit negeriku
*) Varanasi, India – 29 Maret 2012



