“Antar ke kantor PT Elang Perkasa,” Akbar melihat ke jam dinding. Jarum kecil menunjuk ke angka 9 dan jarum besar ke angka 3.
“Sudah malam, Pak. Pasti Pak Wisnu sudah pulang.”
“Dia masih di kantor. Nunggu.”
“Baik, Pak. Saya siapkan mobilnya.”

“Tunggu sepuluh menit lagi!”
“Siap, Pak!” Kemudian kepala itu hilang dan pintu ditutup.
Abar berdiri mengenakan jas. Dia memutar tubuhnya. Foto Presiden, Wakil Presiden, dan burung garuda di dinding belakang menatapnya dengan tajam. Dia memandangi dinding-dingding ruangannya. Beberapa foto dirinya yang sedang dikalungi medali emas menertawakannya. Di pojok dekat lemari es, dia merasa melihat kayu bakar dengan api berkobar.
Amplop coklat itu dipandanginya lagi. Dia tidak bisa menolaknya, karena itu pemberian sahabatnya.


