
Meja makan kami besar untuk 10 orang, menempel ke dinding belakang. Bapak, emak, kami anak-anaknya berlima, dan 3 keponakan Emak yang ikut bersama kami. Jika sedang makan ramai dengan suara sendok-garpu dan berdikui tentang sepak bola dan badminton, serta tentu cerita seharian tadi. Kadang kalau sore hari sedang ada orang kampung bermain bola di belakang, pasti dinding belakang kami aka terus berbunyi keras terkena tendangan bola. Kami sering berteriak mengomeli mereka.

Kini tradisi di meja makan ala Bapak-Emak saya pelihara terus. Selain di rumah bersama keempat anak kami, juga di areal Rumah Dunia dalam, ada pendopo dan meja makan. Dari situlah segala ide dan gagasan dimulai. Setiap kami makan, selalu ada diskusi seperti Bapak dan Emak lakukan kepada kami. Dengan cara begitu, kami tumbuh menjadi keluarga besar. *

Gol A Gong





komenta*