Ketika berjabatan tangan itu, NH Dini berkata kepada saya, “Saya titipkan sastra Indonesia sama kamu.” Saya menggeleng. Saya bilang, saya tidak akan mampu. Saya sedang memikirkan, bagaimana caranya mencari uang yang banyak dari menulis. Saya ingin membangun Gelanggang Remaja yang kemudian kita kenal bernama Rumah Dunia.

Saya dan NH Dini sepaham. Idealisme itu butuh ongkos. NH Dini juga mendirikan taman bacaan yang bernama Pondok Baca Nh. Dini di kampung halamannya, Kampung Sekayu, setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1985. Saya dengar taman bacaannya terkena bnjir.

Saya memang tidak fokus mengejar estetika. Saya mengejar target, bagaimana novel saya ini bagus dan diterima pasar. Syukur-syukur disinetronkan dan difilmkan. Alhamdulillah, target-target itu tercapai. Beberapa novel saya dialihwahanakan ke media elektronik dan bisa membangun Rumah Dinia di Kota Serang, Banten.
Bagaimanapun, pertemuan dengan NH Dini itu abadi di hati. Saya sempat bertemu lagi dengan NH Dini di Anugerah Kebudayaan dan Frankfurt Book Far (2015). Saya mendengar kabarnya kemudian, NH Dini memilih tinggal di Panti Werda, Jl. Kaliurang Yogyakarta, dan wafat karena kecelakaan di Ambarawa pada 4 Desember 2018. Rest in peace, mbak!


