Saat membaca pengumuman Indosat Hi-fi membuka kompetisi menulis ini pun aku masih biasa aja. Sampai di hari terakhir pengumpulan naskah. Aku mulai berpikir apakah ini saat yang tepat untuk tampil, agar nama Komunitas Rumah Dunia sering disebut kembali?

Aku sudah pernah merasakan gaungnya disebut-sebut saat tahun-tahun awal Rumah Dunia berdiri dan bergerak. Saat itulah namaku dan nama Rumah Dunia seperti dua sisi mata uang, selalu berdampingan. Sebenarnya selalu begitu, bahkan sampai sekarang setelah lewat dua puluh tahunan, kami tetap bersisian. Tanpa disebut-sebut lagi pun Rumah Dunia tetap bergiat. Ada teman-teman relawan yang terus bersedia diajak menggerakkan kegiatan. Bersama merekalah kami tetap bersemangat mengabdi di ranah sunyi.

Aku baru sadar di tahun ini sudah seperempat abad menggeluti dunia literasi. Apakah akan ada yang terinspirasi dengan rentang waktu ini? Apakah aku tidak akan menjadi sombong dan riya’, seperti yang selama ini kutakutkan? Di tengah pemikiran OVT itu, aku masih ingin nama Rumah Dunia disebut-sebut kembali.

Maka itulah yang aku tuliskan. Seperempat abad, tahun-tahun penting yang menjadi titik tolak pergerakan literasi bersama anak-anak Rumah Dunia, bagaimana aku merasakan mengajar dua generasi, semua itu kutuliskan dalam 800 kata dan kukirimkan di hari terakhir tenggat kompetisi.



