Lupus yang Metropolis dan Roy si Anak Kampung

Di pasar sebuah kota kecil di NTB, sekitar akhir 1986, ransel kuletakkan di tanah. Di depanku berjejer koran dan majalah termasuk majalah HAI. Serial Lupus karangan Hilman masih merajai. Di dalam hati kubulatkan tekad, serial berikutnya adalah karyaku yang sedang kutulis di perjalanan. Itu mimpi yang terus kurawat.

Dua tahun kemudian, April 1988, aku bertemu Hilman di redaksi HAI, Jl. Palmerah Selatan, Jakarta Pusat. Aku mengambil honorarium episode pertama Balada Si Roy yang berjudul “Joe”. Mimpiku menulis serial untuk bersanding dengan Lupus di majalah HAI terwujud.
Aku datangi dia yang saat itu ditemani Boim Lebon. Aku jabat erat tangan mereka. Hilman memujiku, “Balada Si Roy bagus.”

Kesan pertamaku, Hilman pendiam. Tidak seperti tokoh Lupus ciptaannya yang ekstrovert. Aku harus lebih aktif jika sedang berkomunikasi dengan Hilman. Sedangkan Boim – koleganya sangat komunikatif dan tentu lucu.

Pertemuanku dengan Hilman sangat membekas. Apalagi aku sedang mencari tempat kos. Boim menyarankan agar aku nge-kos tidak jauh dari rumah Hilman dan Gusur Adhikarya –koleganya yang lain di Palmerah Utara.

Kata Boim, “Kalo lu nggak punya duit di akhir bulan, kita bisa nebeng makan di rumah Hilman.”

Terbukti setelah aku nge-kos di Palmerah Utara, jika ingin makan enak, bersama Boim bertamu ke rumah Hilman. Mami Hilman sangat baik mengdilangkan menu makan siang atau malam. Tapi bagiku yang paling berkesan setiap bertamu ke rumah Hilman adalah mengagumi koleksi buku dan kasetnya. Dia fans berat group band Queen dan Duran Duran. Itu sebab rambut Lupus serupa dengan rambut John Taylor – personil Duran Duran.

Saat mendapat kabar Hilman wafat, Rabu 9 Maret 2022, pukul 08:02 dari Gunawan Wibisono – seniorku di Gramedia Majalah, aku sedang berada di kapal Ferry Cakalang, berlayar dari Sape, Kabupaten Bima, NTB menuju Labuhan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT. Aku sekarang jadi Duta Baca Indonesia periode 2021-2025, meneruskan perjuangan Najwa Shihab dalam mengampanyekan budaya membaca dan menulis. Sejak 18 Januari, aku bersafari literasi, kota demi kota di Jawa, Bali, NTB, dan berakhir pada 10 April di Kupang, NTT. Ini kota ke-26, hari ke-50.

Kabar dari Gunawan itu bagai petir. Aku tidak percaya Hilman wafat. Terakhir membaca kabar kesehatan Hilman di akun FB-nya: Hilman baru saja sembuh dari sakit dan menikah dengan Dewi Natalie. Ternyata kabar itu benar. Hilman telah berpulang. Satu persatu sahabatku di “7 Pengarang Remaja Gramedia” dipanggil Tuhan. Adra P Daniel, Gustin Suradji, Gusur Adhikarya, kini Hilman Hariwijaya. PH sudah membunuh sahabat-sahabatku pelan-pelan.

Aku keluar dari dek. Masih belum percaya. Hilman terlalu cepat dipanggil Tuhan. Angin laut Selat Flores menyadarkanku bahwa Hilman telah pergi untuk selamanya. Terkenang beberapa kali perjalanan literasiku bersama Hilman di tahun 1990-an; kami menjadi pemateri pelatihan jurnalistik dan fiksi. Pada 1989, Arswendo Atmowiloto mengikat kami dengan label dagang “7 Pengarang Remaja Gramedia “. Selain kami, juga Gus tf, Arini Suryokusumo, Adra P. Daniel, Zara Zettira ZR, dan Gustin Suradji. Kami sering diundang Gramedia Pustaka Utama, meluncurkan buku terbaru yang kami tulis.

Beberapa kali hanya aku dan Hilman yang diundang. Beberapa kali juga terjadi peristiwa antara penulis dan penbaca yang membuat ‘kikuk’. Bahkan beberapa kali Hilman mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari pembaca novelku. Pada akhirnya kami harus “berpisah”. Karakter pembaca Hilman (Lupus) dan pembacaku (Roy) bagaikan bumi dan langit. Kata mereka, Lupus anak mami dan Roy anak gunung.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==