Hilman adalah pribadi tulus dan sederhana jika menolong orang. Begitu yang terjadi kepadaku. Sepulang dari traveling di 7 negara Asia pada 1992, aku tidak punya pekerjaan tetap. Gusur, Boim, Gustin, dan Adra sudah lebih dulu direkrutnya di Indosiar. Kemudian Hilman menolongku.

“Janji ya, lu nggak akan traveling lagi ninggalin kerjaan,” Hilman mewanti-wanti. Dia kuatir ketika aku direkrut, tidak bertahan lama karena memilih traveling. “Gue yang malu!”
Aku mengangguk. Aku berjanji tidak akan mengecewakannya. Kemudian aku bergabung di tim kreatif Indosiar (1995). Tapi kemudian aku mengambil jalan sendiri di RCTI (1996-2008). Boim mengikuti langkahku. Alasan kami, lebih bagus jika “7 Pengarang Remaja Gramedia” menyebar di lain TV.
Setelah aku berhenti dari RCTI (2008) dan fokus di Rumah Dunia, beberapa kali mengingatkan sahabat-sahabatku yang masih bergelut di industri TV, juga Hilman agar pensiun dari industri TV yang menggerogoti kesehatan tubuh mereka.

Hilman telah pergi. Lupus yang ditulisnya abadi di hati pembaca. Hanya saja yang aku sesali, Hilman tidak sempat menonton film Balada Si Roy yang digarap Fajar Nugros akhir 2022. Aku ingin pamer kepada dia tapi tidak kesampaian.
Selamat jalan, Hilman. Maafkan, aku tidak pernah menjengukmu ketika sakit. Aku selalu sedang tidak di rumah.
- *) Selat Flores, 9 Maret 202, dimuat di majalah Tempo 14 Maret 2022.


