Lupus yang Metropolis dan Roy si Anak Kampung

Aku sering mengingatkan kepada pembaca agar bersikap adil kepada penulis dan buku yang ditulisnya. Bahkan kepada sesama penulis untuk tidak diskriminatif terhadap karya sastra. Dikotomi sastra serius dan sastra populer sangat meruncing saat itu. Sudah menjurus ke sikap megalomania. Kadang karya kami sering dinggap sebagai “sampah”.
Sering aku menetralisir, bahwa dalam sampah selalu ada kompos. Itu yang membuat aku dan Hilman produktif menulis. Kami memilih mengisi ceruk ini: pembaca remaja. Mereka harus diberikan bacaan mewakili dunia mereka. Hilman dengan latar metro-pop dan aku dengan latar tidak Jakartasentris. Tokoh Lupus tentu berlari mengejar bus kota di Jakarta, dan tokoh Roy singgah di tiap kota naik truk atau kereta gerbong. Lupus dengan permen karet dan Roy dengan puisi-puisi pembuka.

Pernah suatu hari, di sebuah kota, sastrawan senior hanya mau menyalamiku. Hilman dianggap telah “merusak” bahasa. Situasi ini semakin membuat kami jadi “berjarak”. Hilman kemudian sering menghindar dariku. “Pembaca lu rese,” katanya, tapi sambil tersenyum.
Ini status quo. Padahal aku dan Hilman menyiapkan pembaca bagi buku-buku yang (akan) mereka tulis. Kami juga menyiapkan penulis untuk menggantikan posisi mereka di masa depan.

Hilman menulis di majalah HAI sejak SMP. Aku pernah membaca cerpen dan cerbungnya sebelum Lupus. Cerpen Hilman yang berjudul “Bian, Adikku yang Tak Pernah Ada” bagus sekali. Majalah HAI yang digawangi Arswendo Atmowiloto di era 80 dan 90-an bukan majalah remaja biasa. Para penulis prosa dan puisi ternama di negeri ini lahir di majalah HAI. Ada nama lain yang cerpen dan cerbungnya sering muncul di HAI, yaitu Leila S. Chudori.
Serial Lupus yang ditulis Hilman adalah representasi budaya populer 80-an. Hilman mendokumentasikannya dalam hal perilaku berpakaian (fashion), bermusik (fun) bahkan makanan (food). Lupus yang ditulis Hilman adalah warisan pemikirannya.

Zaman bergerak cepat. TV swasta mulai menjamur di awal 90-an. Hilman lebih dulu masuk ke Industri TV. Aku masih asyik dengan mimpiku jadi lelaki pejalan – keliling dunia dan mewujudkan idealismeku membangun komunitas literasi Rumah Dunia di Serang-Banten.
Hilman dan geng Lupus sering membantu keberlangsungan Rumah Dunia. Termasuk memberi pelatihan membuat novel komedi bersama kepada pelajar dan mahasiswa di Rumah Dunia. Dia juga pernah meluncurkan film The Wall yang diproduksinya di Rumah Dunia. Hilman datang secara sukarela dan sangat memanjakan Rumah Dunia jika urusannya bagi-bagi ilmu seputar film dan novel.

Hilman bagiku adalah aset negeri ini. Bahkan aset penerbit dan stasiun TV. Dia adalah penulis novel serial terdepan di negeri ini. Lupus versi buku dan novel sama larisnya. Banyak sinetronnya yang selalu menduduki rating pertama. Dua sinetronnya yang mendulang emas adalah Cinta Fitri dan Anak Langit.

Aku pernah terlibat jadi co-writernya untuk sebuah sinetron stripping. Aku menyerah dengan jadwal tidur yang tidak menentu; tidak pernah tahu kapan siang dan malam.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==