Itu saya jalanani dari 1996 hingga 2002. Tiada hari yang terbaik bagi saya selain hari Sabtu dan Minggu. Pekerjaan yang ketat, memikirkan ide kreatif apalagi agar stasiun TV tetap berada di urutan pertama membuat saya ingin cepat-cepat bertemu hari Jum’at sore untuk segera weekend pulang ke rumah. I don’t like monday! Lagu Bob Geldof itu kemudian sering saya nyanyikan di Senin pagi dalam perjalanan ke RCTI.

Di tahun 2002 itulah saya memutuskan untuk weekend setiap hari ketika Nabila (1998) dan Gabriel (1999) sedang aktif bertanya ini-itu; mereka merespon lingkungannya dengan cepat. Tias juga sedang mengandung anak yang ketiga – Jordy. Artinya saya tidak lagi tiap hari Jum’at sore tapi setiap hari saya weekend pulang ke rumah. Resiko perjalanan Serang – RCTI – Serang saya tempuh. Kadang naik bus, bawa mobil sendiri, sampai menyewa supir pribadi.

Saya berangkat dari rumah yang posisinya di pintu tol Serang Timur selepas subuh menuju RCTI di pintu tol Kebon Jeruk. Koridor tol Merak – Tomang ini sangat membantu aktivitas saya antara rumah dan . Nabila dan Gabriel masih tidur. Pulang paling telat setelah salat ashar.

Saya usahakan pulang Nabila dan Gabriel belum tidur tapi menunggu saya dan tentu oleh-oleh yang saya beli dari koperasi RCTI. Semua pekerjaan kreatif saya selesaikan. Saya menolak ikut syuting, saya tidak lagi berada di lokasi. Saya membatasi diri. Apalagi tahun 2002, saya dan Tias dibantu para sahabat membangun peradaban baru di Banten, yaitu Rumah Dunia.

Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan kata-kata. Dari literasi keluarga menuju literasi masyarakat. Kami mencoba membangun dua pondasi itu – literasi keluarga dan masyarakat yang kami ikat dengan literasi baca tulis. Tiada hari tanpa membaca dan menulis.
Saya bawa anak-anak ke pameran buku karena ayahnya meluncurkan buku baru. Saya bawa keluarga weekend dengan cara traveling ke daerah-daerah baru. Ya, tahun 2006, kami lengkap berempat, memulai petualangan baru, yaitu weekend ke daerah-daerah baru.

Setelah literasi keluarga kami perbaiki pelan-pelan dan berhasil, kami mulai mengadakan komunikasi di luar rumah, yaitu membangun literasi masyarakat. Jika kita berhasil membangun literasi keluarga tapi literasi masyarakat kita abaikan, maka kita hanya akan jadi beban masyarakat. Hampir setiap sore kami weekend di Rumah Dunia yang lokasinya di halaman belakang rumah kam.

Sampai akhirnya saya mengambil keputusan untuk tidak lagi pergi bekerja ke RCTI di Kebon Jeruk pada 2008. Anak kami sudah 4, Jordy lahir 2004 dan si bungsu Natasha 2005.

Saya memilih bekerja dari rumah. Setiap pagi mulai pukul 02:00 saya menulis dan mengantar anak-anak ke sekolah. Selepas pukul 14:00 WIB, saya bersenang-senang dengan literasi masyarakat di Rumah Dunia. Jika sedang ada dana dan diundang jadi nara sumber pelatihan, kami weekend sekeluarga ke mana saja. Quality time!

Weekend, pada akhirnya, Anda yang mengatur dan menentukan. Jadi, weekend versi kamu hari apa dan ke mana? Tulis di kolom komentar, ya. Siapat ahu komentar Anda yang terbaik dan ada buku dari saya dikirim ke alamat Anda *
Gol A Gong


