Saat itu aku yang sedang berada di control room bersama Bang Arif Baehaqi berbincang soal betapa sabarnya guru TK mendidik anak muridnya. Mungkin kalau aku atau Bang Arif yang mengurus anak TK itu sudah angkat tangan.

Diperlukan kesabaran yang luar biasa menjadi guru TK. Namun di samping itu, orangtua tetap mempunyai peranan yang besar dalam membentuk karakter anaknya melalui literasi keluarga. Seperti yang dikatakan oleh Nabi dalam hadisnya, “Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama untuk anaknya.”
Dari situ Bang Arif bercerita soal dirinya yang menabung ilmu parenting sejak semester 3 di perkuliahan.

“Ilmu Parenting itu penting, dulu gue nabung ilmu parenting dari semester 3, banyak buku yang gue baca soal parenting,” begitu kata Arif.
Arif menambahkan, mau bagaimanapun orangtua itu menjadi role model untuk anaknya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau orangtuanya tidak memberikan role model yang baik untuk anaknya, maka anaknya akan meniru hal yang buruk dari orangtuanya.
“Coba kita liat itu,” Arif menunjuk orangtua yang membuang sampah tidak pada tempatnya.
Akan menjadi percuma jika si anak diedukasi soal membuang sampah pada tempatnya, kalau orangtua mereka memberikan role model yang tidak baik.

“Jangan sampai sekadar punya anak terus dilepasliarkan begitu aja. Kuasai dulu ilmunya dan memberikan contoh yang baik, supaya si anak nantinya tidak menjadi korban ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak,” Arif terus bercerita.
Bang Arif menyadarkanku akan pentingnya ilmu parenting, atau kalau kata Mas Gol A Gong “Literasi keluarga”. Aku merasa bersyukur tumbuh dari keluarga yang komunikatif dan edukatif. Bapak yang pertama mengajariku mengenal huruf hijaiyah dan mamah yang mengenalkan huruf alfabet.

“Lo harus nabung ilmu parenting dari sekarang. Siapa tau lo punya keputusan buat nikah muda, gak ada yang tau kan? Walaupun kalau gue atau Mas Gong tidak menyarankan hal itu,” Arif menegaskan.
Mas Gol A Gong, menjadi panutanku soal literasi keluarga. Ia berhasil membentuk generasi Jaguarnya dengan literasi keluarga yang baik. Hal tersebut terbukti dari literasi baca tulis yang baik pula di keluarganya. Anak sulungnya, Nabila Nukhalishah Harris menulis novel sejak usia 7 tahun.

Mas Gong dan Bu Tias Tatanka menjadi role model yang baik untuk keempat anaknya. Mereka menunjukkan kebiasaan membaca dan menulis. Sehingga anak-anaknya melakukan apa yang orangtuanya lakukan tanpa paksaan.
“Saya selalu terbuka kepada anak-anak saya. Membuka keran diskusi dan mengarahkan sesuai dengan kemauannya. Karena itu juga yang orangtua saya lakukan,” ujar Mas Gong saat ngobrol santai di sore hari bersama relawan Rumah Dunia.

Ia juga menjelaskan soal pentingnya beradaptasi dalam mendidik anak. Harus disesuaikan dengan kondisi zaman.
Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasul dalam hadisnya, “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.”

Tentu saja zaman anakku nanti akan berbeda dengan zamanku. Akan ada tantangan zamannya tersendiri dalam mendidik anak.
Aku ingat kutipan puisi penyair legendaris asal Lebanon, Khalil Gibran yang berjudul “Anakmu Bukanlah Anakmu”

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tak bisa kau datangi
Bahkan dalam mimpi sekalipun.
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan
Tidak tenggelam di masa lampau.

Sebelum membangun literasi keluarga yang baik. Aku mempersiapkan diri dengan membangun enam literasi dasar. Saat ini aku sedang berlatih untuk konsisten membaca buku minimal satu minggu satu buku (termasuk buku parenting), belajar ilmu kepenulisan, dan belajar ilmu parenting.

Aku memang belum berkeluarga dan belum punya anak. Tapi, tidak ada salahnya aku mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang baik. Supaya aku bisa mendidik anak-anakku dengan kasih sayang dan penuh perhatian agar menjadi generasi yang unggul. Tentu saja bersama istri yang cantik dan bisa menjadi madrasah pertama yang berkualitas. *
Naufal Nabilludin



Semoga istriku cantik dan bisa menjadi madrasah pertama yang berkualitas. Aamiin.